Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, surel: bappeda@slemankab.go.id, website: http://bappeda.slemankab.go.id

Sosialisasi dalam Rangka Internalisasi Geopark Jogja di Lingkungan Sekolah Kabupaten Sleman

Geopark Jogja merupakan salah satu elemen keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki kekayaan warisan geologi bernilai ilmiah tinggi, langka, unik, dan indah. Di wilayah Kabupaten Sleman, Geopark Jogja mencakup beberapa situs penting seperti Kompleks Perbukitan Intrusi Godean, Kompleks Batuan Merapi Tua Turgo-Plawangan, Tebing Breksi Sambirejo, Lava Bantal Berbah, Rayapan Tanah Nglepen, dan Batugamping Eosen. Pengukuhan Geopark Jogja sebagai Geopark Nasional melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor: 171.K/GL.01/MEM.G/2025 tanggal 7 Mei 2025 memperkuat urgensi pengelolaan berkelanjutan terhadap situs-situs tersebut.

Untuk menguatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, diperlukan sosialisasi yang efektif. Sekolah dipilih sebagai mitra awal karena perannya yang strategis dalam membentuk kesadaran dan pengetahuan siswa mengenai potensi lokal. Guru sebagai penggerak utama pendidikan diharapkan dapat menjadi kontributor aktif dalam pengembangan dan pelestarian Geopark Jogja, serta mengintegrasikan pengetahuan geopark dalam proses pembelajaran. Sementara itu, siswa diharapkan menjadi generasi penerus yang mampu menjaga dan mengembangkan geopark secara berkelanjutan.

Sebagai tahap awal, Forum Geoheritage Kabupaten Sleman melaksanakan sosialisasi di tingkat SMP yang berada di sekitar situs geopark di Sleman. Peserta sosialisasi merupakan perwakilan kepala sekolah atau guru SMP se-Kabupaten Sleman. Pertimbangan pemilihan lokasi sekolah ialah yang berlokasi tersebar dekat dengan tujuh Geosite yang ada di Sleman dan dekat dengan Kantor Pemerintahan Kabupaten Sleman. Daftar SMP terundang ialah SMPN 1 Godean, SMPN 1 Seyegan, SMPN 1 Gamping, SMPN 3 Gamping, SMPN 1 Pakem, SMPN 2 Pakem, SMPN 4 Pakem, SMPN 1 Cangkringan, SMPN 1 Berbah, SMPN 3 Berbah, SMPN 1 Prambanan, SMPN 4 Prambanan, SMPN 1 Sleman, dan SMPN 3 Sleman. Adapun pihak perangkat daerah yang juga berpartisipasi dalam acara sosialisasi ini antara lain Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Arsip, serta Dinas Pemuda dan Olahraga. Kegiatan dilaksanakan pada Hari Selasa, 29 Juli 2025 bertempat di Aula Pangripta, Kantor Bappeda Kabupaten Sleman.

Dihin Nabrijanto, selaku General Manager Badan Pengelola Geopark Jogja memaparkan tentang Pengelolaan Pilar Edukasi dalam Konstelasi Geopark Nasional Jogja dengan intisari edukasi merupakan salah satu pilar terpenting dalam pengelolaan Geopark. Geopark sendiri merupakan salah satu objek yang seharusnya dimasukkan dalam kurikulum pengajaran disekolah, khususnya agar para siswa memiliki pemahaman mengenai keberadaan, potensi dan keistimewaan Geosite yang ada di sekitarnya. Sekolah diharapkan dapat menanamkan filosofi “Mangasah Mingising Bumi, Memasuh Malaning Bumi” yang dalam kaitannya dengan Geopark Jogja adalah memahami keistimewaan Yogyakarta melalui partisipasi dalam pengembangan dan pengelolaan Geopark Jogja. Saat ini, Badan Pengelola Geopark Jogja telah memulai program kolaborasi riset dengan beberapa sekolah antara lain SMA N 6 Yogyakarta, SMA Kolese De Britto dan SMA N 3 Depok. Forum Geoheritage Regional Sleman diharapkan kemudian dapat juga berkolaborasi dengan sekolah di tingkat SMP ataupun SD di Kabupaten Sleman.

Achmad Subandrio, selaku perwakilan dari Pusat Studi Geoheritage & Geopark (PSGG) UPN V Yogyakarta memaparkan terkait Keunikan Geologi dan Strategi Penguatan Pilar Edukasi dalam Pengenalan Geosite ke Pelajar Tingkat Pendidikan Dasar. Akademisi senior dari UPN V Yogyakarta tersebut memulai pemaparan mengenai keistimewaan bentang alam Yogyakarta yang unik serta kaitannya dengan sumbu imajiner Gunung Merapi-Pantai Selatan, posisi Yogyakarta yang dibentuk oleh tiga satuan bentangalam Menoreh-Merapi-Baturagung serta hubungannya dengan sejarah Merapi purba-tua dan muda. Dalam pengembangan dan pengelolaannya, Geopark ditetapkan harus dengan metode bottom-up yaitu bertumpu pada inovasi, partisipasi dan kontribusi aktif dari masyarakat. Sekolah diharapkan menjadi salah satu pendorong agar siswa semakin memahami geopark sebagai salah satu keistimewaan Yogyakarta dan menstimulasi agar kedepannya siswa-siswa tersebut menjadi penerus dalam pengelolaan dan pengembangan Geopark Jogja.

Kholiq Widiyanto, selaku pengelola Geosite Tebing Breksi Piroklastik memaparkan mengenai Strategi Pengembangan Geosite untuk Edukasi Pelajar. Ketua Pokdarwis Lowo Ijo tersebut membagikan pengalamannya dalam proses dan upaya pengembangan Geosite Tebing Breksi yang sebelumnya adalah wilayah pertambangan batu. Beliau menceritakan bagaimana pengembangan geosite berbasis masyarakat dapat memberi dampak positif bagi perkembangan sosial budaya dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Tebing Breksi juga menjadi ruang yang suportif bagi pengembangan seni budaya dan terbuka jika ada sekolah yang ingin berkolaborasi bersama.

Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini, dapat menambah pemahaman, kepedulian, dan keterlibatan semua unsur Penggerak Geopark pilar edukasi khususnya dalam mendukung keberlanjutan Geopark Jogja sebagai warisan alam, budaya, dan kehidupan di lingkungan sekolah. Selain itu, diharapkan komitmen seluruh pihak dalam menjaga, mempromosikan, dan mengembangkan Geopark Jogja semakin kuat, sehingga keberadaan geopark tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi sumber manfaat yang berkelanjutan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

~ AJI/Bidang Fisik dan Prasarana ~

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
WordPress Lightbox
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x