Pada Senin, 29 September 2025, Bappeda Sleman menyelenggarakan Focus Group Discussion Penyusunan Bahan Masukan RKPD Tahun 2027 Urusan Perikanan yang dihadiri oleh Bidang Perikanan, Kelompok Pembudi Daya Ikan, Penyuluh Pertanian, APIS, Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Bappeda dan stakeholder terkait. Pada awal kegiatan, Hanggya selaku Kepala Bidang Perekonomian Bappeda memberikan sambutan dan perkenalan diri. Beliau menyampaikan bahwa forum diskusi ini diharapkan dapat menjadi sarana yang membawa manfaat dan keberkahan dalam penyusunan perencanaan. Hanggya juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat agar hasil perencanaan dapat lebih tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan sektor perikanan.
Wili selaku narasumber menyampaikan paparan pengembangan sektor perikanan diarahkan pada penerapan teknologi yang ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas sosial ekonomi, khususnya bagi para pembudidaya. Upaya ini dilakukan dengan merangkul berbagai pihak yang peduli terhadap keberlanjutan sumber daya air di Sleman. Harapannya, seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi untuk menjaga kelestarian lingkungan perairan yang saat ini kondisinya cukup memprihatinkan.
Fokus pembangunan perikanan yang rencananya akan dilakukan antara lain :
- Sumber Daya Manusia : Pelatihan dari hulu sampai hilir (pembenihan/UPR, pembudidaya, pelaku pakan mandiri, pengolahan dan pemasaran), Pendampingan/ akses informasi (Penyuluh Perikanan PNS, PPB ,PPS dan PerguruanTinggi).
- Kelembagaan: Penumbuhan pokdakan, poklahsar, pokmaswas, paguyuban/asosiasi, P2MKP (Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan Perikanan): 9 Unit → terbaru P2MKP Pakan Mandiri Di Budi Fish Farm Ngaglik, P2MKP Pasar Koi Jogja Berbah dan P2MKP Pengolahan (ASPPIN) di Seyegan.
- Benih/induk berkualitas: Kemurnian, produktivitas, Fasilitasi calon induk (silamanda)
- Teknologi:Kolam dalam, Teknologi budidaya standar (CPIB dan CBIB), Teknologi pakan alternatif: buatan dan alami (CPPIB), Pengendalian hama/ penyakit, Budidaya dengan kincir air (sibudidikucir), Booster , Bioflok Nila dan Lele
- Hama dan penyakit: Pembentukan Gugus Tugas Hama Penyakit Ikan, Pengaktifan tim reaksi cepat ketika ada laporan kematian ikan dalam jumlah banyak, Probiotik dan Multivamin ikan, Penyediaan alat ukur kualitas Air untuk Penyuluh, Vaksinasi untuk ikan yang dimulai tahun 2025, Surveilance dan monitoring Hama Penyakit Ikan yang bekerjasama dengan Badan Karantina Indonesia. Ditemukan kasus megaloti virus pada ikan sehingga diperlukan kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada untuk pemetaan penyakit dan rekomendasi langkah penanganan.
- Sarana dan Prasarana: Fasilitasi Excavator (pokdakan gratis); Peralatan budidaya, Probiotik, vitamin, obat-obatan, karung, Sumur dangkal dan pompa, Peralatan pakan mandiri
- Permodalan:LPMUKP (Lembaga Penjamin Modal Usaha Kelautan Perikanan), CSR (BI, Pertamina, pabrik pakan, BPD, BSI), Dana Penguatan Modal APBD,
- Pengolahan dan pemsaran: ASPPIN dan PAPIKS, Fasilitasi pasar ikan kelompok, Fasilitasi peralatan pengolahan dan pemasaran, Fasilitasi UPI,Fasilitasi pelatihan pengolahan, GEMARIKAN
Terdapat 741 kelompok pembudidaya ikan yang terdiri atas 548 kelompok pemula, 159 kelompok madya, dan 34 kelompok utama. Konsumsi ikan di Sleman telah melampaui target, namun ketersediaan ikan masih rendah dan belum sebanding dengan capaian nasional. Untuk ikan hias terdapat 113 kelompok rumah tangga perikanan. Jumlah pasar ikan mencapai 27 unit, dengan 20 unit di antaranya milik Pemerintah Kabupaten Sleman. Dari sisi produksi masih terdapat kendala, antara lain kesulitan dalam menjual hasil budidaya serta kekurangan pasokan barang.

Eko selaku narasumber menyampaikan perikanan dipandang sebagai sektor strategis dalam pemenuhan gizi layak, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Sektor ini juga berperan dalam penciptaan lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung, serta memiliki multiplier effect karena memunculkan kegiatan perdagangan, pengolahan, dan kebutuhan pendukung lainnya. Produk perikanan menjadi kebutuhan penting masyarakat dan di beberapa daerah bahkan menjadi sumber utama pemenuhan hidup.
Ikan hias dinilai sebagai komoditas paling potensial untuk perdagangan internasional, meskipun kelompok binaan masih menghadapi kendala karena sebagian anggotanya sudah memiliki pekerjaan lain sehingga tidak fokus pada budidaya. Seiring meningkatnya pendapatan masyarakat, ikan hias semakin dipandang sebagai produk prestisius dengan peluang pasar yang semakin terbuka.
Sleman dinilai sangat strategis karena memiliki produksi ikan terbesar di DIY, terutama komoditas nila dan gurame. Kegiatan pengolahan juga berkembang pesat dengan beragam produk olahan ikan yang sudah masuk pasar, termasuk inovasi makanan seperti onigiri yang diproduksi oleh lima pabrik. Kondisi ini menunjukkan capaian positif sektor perikanan Sleman yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Ketua Tim Kerja Pertanian Pangan dan Perikanan selaku moderator menyimpulkan bahwa Sleman memiliki posisi strategis sebagai sentra produksi dan pengolahan ikan, namun nilai tukar pelaku usaha masih rendah sehingga perlu penguatan bibit, pakan, dan akses pasar melalui program Makan Bergizi Gratis.Forum komunikasi akan ditata kembali pada tahun 2026. Dengan kondisi keuangan daerah saat ini, forum komunikasi diharapkan tidak hanya terkesan menonjol secara seremonial, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan. Penelitian juga diharapkan dapat diarahkan pada isu-isu nyata yang dihadapi di Sleman. Selain itu, pemetaan penyakit ikan perlu segera ditindaklanjuti, mengingat permasalahan ini sudah muncul sejak 2021 dan kini menular ke jenis ikan lain. Pemetaan sangat penting untuk kebutuhan peramalan dan pencegahan lebih lanjut. Seluruh masukan yang telah dibahas dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan RKPD Tahun 2027. Selain itu, juga ditekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha perikanan untuk menindaklanjuti berbagai isu yang telah diidentifikasi.
~ Bidang Perekonomian ~