BAPPEDA SLEMAN Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, bappeda@slemankab.go.id

Warisan Geologi Daerah Istimewa Yogyakarta – Bukti Sejarah Masa Lalu

Selasa (08/09), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia melalui Sekretariat Daerah Yogyakarta menggelar Ekspose Hasil Verifikasi Potensi Warisan Geologi DIY Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul yang dilaksanakan di Ruang Rapat Gedung Wisanggeni Pemda DIY. Pertemuan ini menindaklanjuti hasil verifikasi lapangan terkait dengan potensi warisan geologi DIY yang telah dilaksanakan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM RI dengan Pemerintah Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

Sebelum agenda pemaparan dan diskusi, acara dibuka oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangungan Setda DIY seraya menyampaikan rasa terima kasih kepada peserta yang hadir pada pertemuan ini. Isi dari pembukaan tersebut mengungkapkan kaitan proklamasi dengan rapat kerja warisan geologi heritage yaitu LIMA DASTER dengan kepanjangannya LI adalah Melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, MA yaitu memajukan kesejahteraan umum, DAS dengan arti mencerdaskan kehidupan bangsa, dan TER yaitu  ikut serta dalam ketertiban dunia.

Ekspose ini memaparkan hasil verifikasi potensi warisan geologi DIY Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul yaitu Perbukitan Sisa Intrusi Diorit Godean, Batuan Merapi Tua Turgo-Plawangan Pakem, Aliran Pirokalstik Bakalan, Rayapan Tanah Nglepen, Batugamping Eosen Ambarketawang, Lava Bantal Berbah, Tebing Endapan Piroklastik Breksi Tuf Sambirejo, Sesar Opak Bukit Mengger, Lava Purba Mangunan, dan Gumuk Pasir Parangtritis. Terdapat 20 kawasan cagar alam geologi yang akan ditetapkan dalam warisan geologi, 10 diantaranya terdapat di Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul yaitu Gunung Ireng Pengkok, Gunung Genthong Gedangsari, Breksi Gunungapi Purba Nglanggeran, Gunungapi Purba Siung-Batur-Wediombo, Bioturbasi Kali Ngalang, Puncak Tebing Kaldera Purba Suroloyo, Sisa Perbukitan Asal Struktur Geologi Widosari, Formasi Nanggulan Eosen Kalibawang, Goa Kiskendo, dan Mangan Kliripan-Karangsari.

Arif dari Badan Geologi memaparkan bahwa Yogyakarta merupakan Provinsi yang memiliki banyak formasi dan kawasan geologi yang beragam jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Selain itu, dijelaskan pula beberapa hal yang menjadi dasar perlindungan kawasan cagar alam dan geologi yaitu peran penting dalam pengembangan riset dan pendidikan tentang ilmu kebumian, menunjukkan rasa bangga dan kesadaran pada masyarakat lokal dan juga dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Untuk menghindari ancaman terhadap warisan geologi, diantaranya adalah alih fungsi lahan yang semakin marak dilakukan masyarakat secara illegal, melatarbelakangi perlunya penetapan Kawasan cagar alam Geologi seperti Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019, Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2020 dan  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Hasil dari identifikasi Kawasan Cagar Alam Geologi Yogyakarta pada tanggal 13 Februari hingga 1 Maret 2020 dengan jumlah lokasi awal sebanyak 13 lokasi namun setelah diadakan survey lapangan terdapat 11 lokasi yang di setujui ditambah dengan 9 lokasi yang sudah masuk dalam warisan geologi tahun 2008 sehingga jumlah keseluruhan adalah 20 lokasi yang akan di tetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi.

Beberapa pertanyaan mengemuka, termasuk dari Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang merujuk pada Draft Matrix nomor 7 berisi situs warisan geologi Batuan Merapi Tua Turgo-Plawangan Pakem yaitu Taman Nasional Gunung Merapi ditunjuk sebagai kawasan lindung nasional. Selain itu, TNGM juga ditetapkan sebagai kawasaan strategis nasional bidang lingkungan hidup serta menurut Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 kawasan TNGM ditetapkan sebagai kawasan pariwisata. Oleh karena itu, dengan gelar TNGM yang terlalu banyak bagaimana arahan untuk pengelolaan tata ruangnya dan dengan terbitnya Surat Keputusan dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (DPMPPT) Kabupaten Sleman tentang izin eksplorasi galian tambang yang berlokasi berbatasan sejauh 4m dengan TNGM yang akan dijadikan lokasi geoheritage yang dikhawatirkan dapat merusak kawasan lindung.

Menjawab pertanyaan dari TNGM yaitu terkait pengelolaan tata ruang Badan Geologi hanya dapat memberikan arahan pemanfaatannya sementara dalam penaatan tata ruang merupakan kebijakan Pemerintah Daerah. Sementara untuk izin eksplorasi tambang perlu adanya diskusi khusus antara Pemerintah Daerah setempat dengan pengelola TNGM karena sudah di luar dari kebijakan Badan Geologi Nasional. Selain itu Pengadeng Kawedanan Keprajan Kadipaten Pakualaman yang biasa disebut Banyudono menambahkan pendapat bahwa perlu adanya perimeter untuk melindungi dan mengamankan situs yang sudah ditetapkan sebagai kawasan geologi dan heritage.

Secara keseluruhan hasil dari verifikasi potensi warisan geologi DIY Sudah di sepakati oleh semua pihak yang menghasilkan Berita Acara dan ditanda tangani oleh Pemerintah Kabupaten Bantul, Pemerintah Kabupaten Sleman, Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Kepala BPPTKG Yogyakarta, Panewu Pakem Sleman, Panewu Cangkringan Sleman, Panewu Godean Sleman, Panewu Prambanan Sleman, Panewu Gamping Sleman, Panewu Berbah Sleman, Panewu Parangtritis Bantul, Panewu Dlingo Bantul, dan Panewu Jetis Bantul. (***Bidang Fisik dan Prasarana)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of