Budaya Pemerintahan SATRIYA, sebagai watak yang harus menjiwai seorang aparatur sipil negara Kabupaten Sleman dalam menjalankan tugasnya, merupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, dengan makna sebagai watak ksatria yaitu sikap memegang teguh ajaran moral sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh (konsentrasi, semangat, percaya diri dengan rendah hati, dan bertanggung jawab). Semangat dimaksud adalah golong gilig yang artinya semangat persatuan kesatuan antara manusia dengan Tuhannya dan sesama manusia. Pengertian Budaya SATRIYA tersebut disampaikan oleh Dra. Sri Martini, M.Kes, Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Bappeda Sleman dalam acara Sosialisasi Budaya Pemerintahan SATRIYA di Lingkungan Bappeda Sleman pada Kamis, 13 September 2018, bertempat di Ruang Rapat Sinom yang dihadiri oleh seluruh karyawan dan karyawati Bappeda.

SATRIYA merupakan singkatan dari Selaras, Akal budi luhur, Teladan-keteladanan, Rela melayani, Inovatif, Yakin dan percaya diri, serta Ahli-profesional. Makna dan pengertian luhur dari budaya tersebut seyogyanya dapat diimplementasikan oleh seluruh ASN Bappeda Kabupaten Sleman sehingga dapat meningkatkan kualitas di dalam konteks pelayanan publik. Pada acara ini juga diselenggarakan survei penerapan Budaya Pemerintahan Satriya guna melihat sejauh mana implementasinya di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Dalam kesempatan ini, Sekretaris Bappeda, Arif Setio Laksito, ST, M.Dev.Plg menekankan akan pentingnya penerapan Budaya Pemerintahan SATRIYA, sebagai cara untuk menerapkan semangat SEMBADA di lingkungan pemerintah Kabupaten Sleman. Selain perlu disusun rencana aksi, langkah kecil yang nyata yang dapat dilakukan oleh ASN Bappeda Sleman adalah selalu menjaga kehadiran yang tepat waktu serta disiplin dalam berpakaian dinas termasuk atribut penggunaan name tag dada dan ID pengenal.(***Sekretariat/JFP)