BAPPEDA SLEMAN Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, bappeda@slemankab.go.id

Dilema Wisata VS Penambangan – Sebuah Isu Wilayah Perbatasan

Wilayah Pertambangan (WP) adalah wilayah yang memiliki potensi bahan tambang dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan serta merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. WP selanjutnya dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya adalah Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) yaitu bagian dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi, Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) yaitu wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan, serta Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yaitu bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pada saat ini, Pemerintah Pusat memberikan kesempatan kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan masukan dan saran arahan terhadap pembaharuan delineasi Wilayah Usaha Pertambangan dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan kebijakan tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman melakukan rapat koordinasi untuk membahas Revisi Peta Wilayah Pertambangan di Kabupaten Sleman. Dalam rangka tindaklanjut dari Rapat Koordinasi di Sekretariat Daerah pada Rabu (18/8) tentang Usulan Revisi Peta Wilayah Pertambangan di Kabupaten Sleman, BAPPEDA Sleman melakukan tinjau lapangan ke salah satu kawasan yang diusulkan untuk dikeluarkan dari deliniasi WP, yaitu Kawasan Grojogan Watu Purbo yang berlokasi di Padukuhan Bangunrejo, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman. Lokasi ini terletak pada kawasan perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dimana pada sisi Jawa Tengah merupakan salah satu WP yang telah mendapatkan izin penambangan dan telah operasional. Di sisi lain, Grojogan Watu Purbo yang terletak di Kabupaten Sleman saat ini telah difungsikan sebagai kawasan wisata alam.  

Berdasarkan hasil peninjauan lapangan ditemukan beberapa permasalahan yang terjadi di wilayah tersebut, antara lain penolakan masyarakat terhadap kegiatan penambangan yang dianggap merusak lingkungan. Warga di wilayah sekitar Grojogan Watu Purbo menyatakan bahwa penambangan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem sungai, polusi udara, serta dapat membahayakan warga sekitar dan wisatawan akibat galian terbuka bekas penambangan. Permasalahan lainnya yang ada adalah kerawanan konflik sosial di tengah masyarakat. Permasalahan tersebut melibatkan kebijakan antara dua provinsi sehingga dibutuhkan kehadiran pemerintah pusat dalam penyelesain permasalahannya. (***Bidang Fisik dan Prasarana)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of