BAPPEDA SLEMAN Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, bappeda@slemankab.go.id

Panewu Kalasan, Seyegan, Prambanan, dan Pakem Paparkan Usulan Program/Kegiatan untuk Perencanaan Tahun 2022 (FP-3)

Forum Panewu hari ke-3 yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Sleman Tahun 2022 pada Kamis (11/02) menghadirkan empat Panewu dari Kapanewon Kalasan, Prambanan, Seyegan, dan Pakem. Seperti pada forum sebelumnya, keempat narasumber memaparkan potensi maupun permasalahan yang terjadi di masing-masing kapanewon serta usulan program/kegiatan baik berupa usulan prioritas melalui Pagu Usulan Partisipatif Masyarakat (PUPM) maupun melalui penganggaran secara reguler.

Pada kesempatan paparan pertama, Panewu Kalasan, Siti Anggraeni Susila Prapti mengulas secara umum potensi yang dimiliki Kapanewon Kalasan yang memiliki luas 3.584 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 85.832 jiwa. Salah satu potensi yang saat ini mulai berkembang adalah wisata desa (sejarah/perjuangan) dan wisata kuliner. Sejalan dengan tema pembangunan tahun 2022 “Mempercepat Kebangkitan Ekonomi dan Pemulihan Kondisi Sosial Masyarakat Sleman,” terdapat beberapa usulan prioritas terkait pembedayaan masyarakat dan kesehatan antara lain penanganan stunting, pelatihan pengemasan produk, PIRT untuk UMKM, pelatihan pengolahan pupuk organik, pelatihan menjahit dan bordir, pemanfaatan pekarangan dengan tanaman buah, serta pelatihan pengolahan bawang merah. Sementara untuk prioritas pembangunan fisik antara lain perbaikan drainase Padukuhan Sentono dan Jalan Cangkringan, talud jalan Pakem-Klurak, serta Penerangan Monumen Plataran.

Berkesempatan sebagai pemapar kedua, Panewu Seyegan, Budi Pramono menyampaikan bahwa potensi Kapanewon Seyegan dengan wilayah yang didominasi pertanian dan bagian dari Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan juga berkembangnya wilayah melalui rencana pembangunan jalan tol, harapannya investasi pembangunan tetap dapat masuk sehingga masyarakat turut serta dalam pembangunan, tidak hanya sebagai penonton saja. Potensi wisata yang dimiliki serta UMKM. Sampai saat ini, permasalahan yang masih terjadi di kapanewon antara lain masih tingginya angka kemiskinan, meningkatnya tingkat pengangguran, penurunan produktivitas sawah akibat hama, masih adanya kasus stunting, adanya penyandang masalah sosial, masih adanya anak putus sekolah serta masih terjadinya dampak bencana akibat angin kencang. Oleh karena itu, program/kegiatan yang diusulkan adalah pemberdayaan UMKM, peningkatan kapasitas SDM, pariwisata dan ekonomi kreatif, peningkatan divesifikasi dan ketahanan pangan masyarakat, peningkatan kesempatan kerja, pemberdayaan sosial, pengembangan lingkungan sehat, penguatan dan pengembangan lembaga penyedia layanan peningkatan kualitas hidup anak, pembangunan saluran drainase/gorong-gorong, pengelolaan sumber daya air, pembangunan sarpras kapanewon layak anak, serta peningkatan kesehatan masyarakat petani ikan.

Di kesempatan ketiga, Panewu Prambanan, Rasyid Ratnadi Sosiawan, menyampaikan kondisi wilayah secara umum yang sebagian besar berada di wilayah perbukitan. Kapanewon Prambanan juga menjadi bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Permasalahan pembangunan yang paling mencolok adalah angka IPM paling rendah dibanding kecamatan lainnya yakni sebesar 77,01. Selain itu, masih cukup tingginya angka kemiskinan, masih adanya anak putus sekolah, terjadinya penyandang masalah sosial, serta belum adanya pengolahan pakan dan limbah ternak. Adapun program/kegiatan yang diusulkan adalah pelatihan dan pendampingan penelola desa wisata, pelatihan kewirausahaan, pelatihan peningkatan kelembagaan kelompok tani, pelatihan penguatan KWT, pengembangan wisata ramah anak, pelatihan pengemasan olahan hasil pertanian, pengurusan PIRT, pelatihan internet marketing, pelatihan dan pengelolaan desa wisata, pelatihan instalasi penerangan, pelatihan batik, pelatihan keterempilan bagi perempuan, pelatihan kader sosial, bantuan kebutuhan dasar bagi disabilitas, peningkatan kapasitas Gapoktan, pelatihan sablon, serta pemudidayaan pakan ternak.

Pada kesempatan keempat, Panewu Pakem, Suyanto memaparkan profil dan potensi wilayah Kapanewon Pakem dengan luas 4.384 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 13.712 jiwa. Saat ini, terdapat potensi yang cukup menonjol di bidang pertanian dan pariwisata yaitu Minapadi Samberembe. Salah satu kegiatannya adalah pelatihan budidaya pertanian sehingga diharapkan dapat berkembang ke wilayah lain. Dalam rangka konservasi sumberdaya air, wacana untuk membangun Saluran Mataram II yang bersumber dari Kali Krasak yang melewati Kapanewon Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Prambanan dapat mendukung pembangunan pertanian di wilayah Kapanewon Pakem. Adapun permasalahan yang dihadapi kapanewon adalah daya saing UMKM belum optimal, kurangnya keterampilan bagi penyandang disabilitas, kurangnya kader petani muda, diversifikasi olahan pangan lokal belum optimal, masih adanya kasus balita stunting, masih adanya pengangguran, kompetensi dan kesejahteraan pendidik PAUD masih kurang, serta sarpras ekonomi dan wisata maupun pertanian mengalami kerusakan. Sementara program/kegiatan yang diusulkan terkelompok ke dalam prioritas kesejahteraan masyarakat (9 usulan), kesehatan (5 usulan), pendidikan (2 usulan), dan infrastruktur (12 usulan).

Pada sesi diskusi dan tanya jawab dalam sesi kedua forum ini, yang dipandu oleh Moderator, Suci Iriani Sinuraya, tercatat beberapa pertanyaan maupun masukan dari peserta seperti dari Anggota DPRD Kabupaten Sleman yang menekankan pentingnya meningkatkan testing Covid-19 melalui pelaksanaan uji di puskesmas sehingga lebih dekat dengan masyarakat. Tidak kalah penting juga adalah adanya sinkronisasi antar satgas kecamatan sehingga upaya pencegahan maupun penanganan lebih efektif. Sementara itu, dalam rangka pemulihan ekonomi, perlu mendorong munculnya ide-ide kreatif yang menarik sehingga dapat menumbuhkan minat bagi para milenial untuk produktif di sektor pertanian. Pemda dapat memberikan insentif, misal melalui pemanfaatan Tanah Kas Desa dengan pembebasan biaya sewa, baik melalui APBD maupun melalui dana keistimewaan. (***BOB/Bidang Data dan Perencanaan Pembangunan)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of