BAPPEDA SLEMAN Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, bappeda@slemankab.go.id

Panewu Cangkringan, Gamping, Godean, Ngemplak, dan Berbah Paparkan Usulan Program/Kegiatan untuk Perencanaan Tahun 2022 (FP-4)

Selama masa Pandemi Covid-19 ini, perekonomian Kapanewon Cangkringan hampir lumpuh, karena sebagaian besar (sekitar 67%) bergantung pada penduduk luar kapanewon yang berkunjung di Wilayah Cangkringan. “Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, Kapanewon Cangkringan mencanangkan Cangkringan Reborn Tahun 2022,” ungkap Panewu Cangkringan, Suparmono dalam paparannya di kesempatan pertama pada Forum Panewu yang diselenggarakan pada Senin (15/02) di Ruang Pangripta Bappeda Kabupaten Sleman. Pencanangan ini merupakan upaya pemulihan ekonomi melalui daya ungkit sektor wisata dan turunanannya, jalur ekonomi, serta sektor pertanian. Kapanewon Cangkringan juga memiliki inovasi Kado Manten, yang telah berjalan selama 2 tahun ke belakang, yaitu inovasi pelayanan berupa pemberian 5 administrasi kependudukan bagi warga yang melaksanakan pernikahan di lingkungan Kapanewon Cangkringan, tambahnya.

Pada kesempatan kedua, Panewu Gamping, Ikhsan Waluyo menyampaikan beberapa potensi maupun permasalahan di Kapanewon Gamping. Permasalahan yang dihadapi oleh kapanewon antara lain masih tingginya angka pengangguran, daya saing masih rendah, inovasi rendah, kurangnya keterampilan warga, belum adanya diversifikasi usaha, masih adanya hama pengganggu tanaman, masih adanya kasus DBD, stunting, dan penyakit degenaratif, masih terjadinya kasus kenakalan remaja, serta belum optimalnya pembangunan kesetaraan gender dan pendidikan anak usia dini. Di bidang infrastruktur, beberapa ruas jalan kerap mengalami kerusakan, masih terjadinya genangan, serta masih adanya ancaman longsor. Melalui potensi-potensi yang dimiliki, permasalahan tersebut harapannya dapat ditangani dengan baik. Lebih jauh, Ikhksan menambahkan bahwa rencana pembangunan jalan tol Jogja-Cilacap merupakan peluang bagi tumbuhnya perekonomian wilayah, antara lain melalui pembangunan kawasan rest area yang dapat melayani para pengguna jalan.

Panewu Godean, Sarjono dalam paparan di kesempatan ketiga mengungkapkan beberapa potensi yang dimiliki Kapanewon Godean seperti adanya warisan geoheritage batuan purba diorit berusia 40 juta tahun di Gunung Wungkal, terbangunnya sirkuit internasional Forlantas di Sidomoyo, desa wisata Plesiran Desa di Sidoarum, Embung Gagak Suro di Sidomulyo, Embung Jering di Sidorejo, Saparan Kwagon di Sidorejo, Pasar Godean, serta Pasar Kowen, dan Pasar Bibis di Sidokarto. Selain itu, terdapat pula Pasar Kliwonan di Sidorejo, Pasar Kethip di Sidoarum, Kampung Blangkon di Sidoarum, Kampung Perunggu di Sidokarto, Kampung Kerajinan Bambu di Sidomoyo, Batik Ecoprint di Sidomoyo, Kerajinan Genteng di Sidoluhur, Sidorejo, dan Sidoagung, Oleh-oleh khas Belut Goreng di Godean, serta terbentuknya Gapoktan Sidomulyo. Selain potensi, permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya minat generasi muda di sektor pertanian, kurangnya inovasi petani, kurangnya kecakapan dalam penggunaan media online sebagai sumber penghasilan, pembatasn mobilitas sosial, kurang optimalnya pemberdayaan ODGJ dan disabilitas, belum maksimalnya perkembagan BUMDes, masih adanya kasus stunting dan TBC, belum optimalnya pelayanan pendidikan, kurangnya area bermain anak, serta kurangnya area sebagai tempat interaksi sosial.

Berkesempatan sebagai pemapar keempat, Panewu Ngemplak, Siti Wahyupurwaningsih, menguraikan beberapa potensi maupun permasalahan yang dimiliki Kapanewon Ngemplak. Salah satu potensi yang menonjol adalah potensi budaya dan wisata seperti Saparan Ki Ageng Wonolelo, Merti Sungai Blue Lagoon, Merti Desa dan Merti Dusun, Sadranan Makam Kyai Joyo Wilopo, Merti Kali Ledok Blotan, keberadaan Candi Gebang dan Morangan, Embung Banjarharjo, Desa Wisata Bokesan, Wisata Ledok Blotan, Sendang Lanang/Wadon Joholanang, Eduwisata Pametri Widodo, serta Kampung Empon-Empon. Meskipun demikian, Kapanewon Ngemplak masih menghadapi beberapa permasalahan baik di bidang pemerintahan, lingkungan, sosial, kesehatan, maupun infrastruktur. Oleh karena itu, beberapa program/kegiatan menjadi usulan tahun 2022 antar lain sekolah lapang budidaya tanaman pangan, penguatan KWT, pelatiah pertanian organik, pelatihan agribisnis bagi petani muda, pelatihan pemasaran olahan hasil pertanian, pelatihan desain grafis, pelatihan resller online, pelatihan dan pendampingman pengelolaan desa wisata, bimtek usaha pariwisata, upaya percepatan penanggulangan ksus stunting, pelatihan kader pendidikan, penguatan kapasitas forum anak, pelatihan bagi kaum perempuan, perbaikan talud jalan, pembangunan drainase, pelatihan/sosialisasi pengelolaan sampah/air limbah dan RTH, serta pembangunan taman layak anak.

Sama halnya dengan pemapar sebelumnya, pada kesempatan kelima, Panewu Berbah, Wildan Solichin menyampaikan beberapa kondisi wilayah secara umum Kapanewon Berbah yang masih dihadapi, seperti sebagian infrastruktur jalan kurang baik dan tidak sesuai kapasitasnya, serta tidak didukung drainase, belum ada SMU Negeri yang berlokasi di Kapanewon Berbah, kurangnya sarana bermain anak, serta masih ada tenaga pendidik PAUD yang belum memiliki komptensi sebagai pendidik PAUD. Adapun usulan program/kegiatan bidang fisik melalui mekanisme PUPM antara lain pembangunan saluran irigasi (area SMP3 Berbah-Sentonorejo Jogotirto), rehabilitasi bendung dan saluran irigasi Tlogowono, Tegaltirto, Pembangunan Saluran Drainase Berbah Jalan Jagalan-Berbah, Kalitirto, Pembangunan Taman Layak Anak Khusus Kapanewon di Sompilan, Tegaltirto, dan di Minggiran, Sendangtirto, serta Pengadaan RTH di Candibang, Jogotirto. Sedangkan untuk usulan non fisik antara lain pelatihan  bagi kaum perempuan Kalurahan Jogotirto, pemeriksaan air bersih 18 padukuhan Sendangtirto, pengelolaan destinasi wisata di Kalurahan Jogotirto, pelatihan dan pendampingan pengelolaan desa wisata/pokdarwis di Tegaltirto, pelatihan pembuatan pupuk organik, pelatihan olahan ikan, Sekolah Lapang Budidaya Hortikultura,  dan tanaman pangan, pelatihan stir mobil, pelatihan pemasaran onlinde dan temu usaha perdagangan UMKM, pelatihan tata boga, pelatihan menjahit, pelatihan las listrik, peningkatan kompetensi dan kapasitas unit usaha BUMDes, pelatihan relawan, serta pengurusan PIRT.

Pada sesi diskusi tanya jawab, yang dipandu oleh Moderator, Erny Maryatun, salah satu peserta menyampaikan beberapa masukan maupun usulan. Nunuk Hartati mengungkapkan bahwa usulan terkait penghargaan atas inovasi berupa studi banding, seyogyanya dapat dialihkan untuk pengadaan prasarana dan sarana penunjang kerja mengingat kondisi pandemi belum mereda. Pada tahun 2022, Museum Bakalan akan mendapatkan alokasi DAK, sehingga harapannya pengembangan pariwisata dapat semakin menggeliat. Terkait pengembangan unit-unit usaha BUMDes, Dinas Koperasi dan UMKM menawarkan pelatihan pada tahun 2022. Harapannya, kapanewon dapat menangkap peluang ini. Peserta lainnya, Epipana, berbicara masalah kemiskinan, perlu adanya kehati-hatian dalam perumusan kebijakan terutama bagi penduduk rentan miskin yang semakin besar, sehingga tidak berubah menjadi miskin. Terkait pelatihan, diperlukan data by name by address agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan pelatihan, dengan peserta yang sama. Sementara itu, Santi Windayani mendorong pengembangan potensi pariwisata yang dimiliki kapanewon, seperti di Kapanewon Berbah yang memiliki beberapa daya tarik wisata baru, yang ditunjang oleh adanya rencana pembangunan jalan tol Jogja-Solo.  (***BOB/Bidang Data dan Perencanaan Pembangunan)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of