BAPPEDA SLEMAN Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, bappeda@slemankab.go.id

Demi Sumber Kehidupan yang Berkelanjutan – Water Safety Plan di Kabupaten Sleman

Air merupakan sumber daya alam yang sangat hakiki dan dibutuhkan oleh segala bentuk kehidupan. Bagi manusia, air diperlukan sebagai kebutuhan dasar untuk tetap hidup, di  samping sebagai sarana penunjang aktivitasnya sehari-hari. Penyediaan air minum di Indonesia umumnya dikelola oleh suatu perusahaan milik daerah yang dikenal dengan nama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun, pelayanan penyediaan air minum yang disediakan oleh PDAM seringkali masih dikeluhkan oleh masyarakat pelanggannya. Keluhan tersebut terutama karena air sering tidak mengalir dalam jumlah yang cukup, dan kualitas air yang buruk.

Pemerintah melalui draft Rencana Pembangunann  Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mengamanatkan bahwa, pada 2019, Indonesia bisa mencapai 100% akses (universal access). Pencapaian universal access tersebut adalah 85% penduduk Indonesia mendapatkan layanan air minum yang memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar 60 liter/orang/hari dan 15% penduduk mendapatkan layanan yang memenuhi kebutuhan pokok minimal untuk makan dan minum (lifeline consumption) yaitu sebesar 15 liter/orang/hari. Dalam mencapai target pembangunan 100% sanitasi pada tahun 2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya telah melakukan berbagai upaya di sektor tersebut melalui beberapa program kegiatan, di antaranya program sanitasi berbasis masyarakat yang dilaksanakan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia. Selama ini beberapa lokasi di antaranya telah dibantu pelaksanaannya secara informal oleh BORDA (Bremen Overseas Research & Development Association) Indonesia.

Dalam mendukung kegiatan pengamanan sumber air (Water Safety Plan) terkait dengan kontribusi manajemen keterpaduan dengan sanitasi di kawasan resapan dan tangkapan air, BORDA Indonesia dengan pengalaman bersama-sama para ahlinya akan mendukung Pemerintah Indonesia sesuai tugas pokok dan fungsinya akan melakukan kegiatan riset, penelitan dan proyek percontohan.  Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum terkait dengan keberlanjutan air baku, terdapat beberapa ayat dalam pasal-pasal yang secara eksplisit mengungkapkan bahwa perlindungan air baku dilakukan melalui keterpaduan pengaturan pengembangan SPAM dan Prasarana dan Sarana Sanitasi. Selain itu dituangkan juga bahwa penyelenggaraan pengembangan SPAM harus dilaksanakan secara terpadu dengan pengembangan Prasarana dan Sarana Sanitasi untuk menjamin keberlanjutan fungsi penyediaan air minum dan terhindarnya air baku dari pencemaran air limbah dan sampah. Dalam pelaksanaannya kebijakan tersebut diarahkan pada wilayah sumber air dapat berupa mata air, sungai, danau, laut, air tanah dangkal, maupun air tanah dalam, bertujuan untuk mengendalikan pencemaran dan meningkatkan kualitas sumber air baku bagi operator air minum maupun para konsumen/pengguna yang langsung menggunakan air dari sumber air baku seperti mata air, dan lain sebagainya.

Target yang akan dicapai oleh BORDA adalah adanya pemahaman kepada stakehoders tentang pentingnya Manajemen Air Limbah/Sanitation Safety Plans (SSP) Terpadu sebagai kontribusi kegiatan Rencana Pengamanan Sumber Air/Water Safety Plans (WSP) dalam rangka memecahkan masalah pencemaran air dan pencegahannya. Selanjutnya, diperlukan adanya kajian/penelitian di zona resapan (recharge area) dan tangkapan air (catchment area) tentang potensi pencemaran dalam rangka melindungi sumber air minum. Terakhir adalah melakukan pengembangan kapasitas kelembagaan (capacity building) dalam rangka keberlanjutan program kepada stakehoders tentang Manajemen Air Limbah/Sanitation Safety Plans (SSP) Terpadu sebagai Kontribusi kegiatan Rencana Pengamanan Sumber Air/Water Safety Plans (WSP).

Berdasarkan kegiatan tersebut maka BORDA mengadakan sosialisasi kepada tokoh masyarakat pada beberapa lokasi di antaranya adalah Sumur Patukan, Desa Ambarketawang, Mata Air Tuk Dandang, Desa Pandowoharjo, serta Sumur Kregan dan Kenayan, Desa Wedomartani.

Sebagai salah satu proses, diadakan peninjauan lokasi di Sumur Kregan dan Kenayan pada Rabu (24/02) dihadiri oleh perangkat Desa Wedomartani, PDAM Kab. Sleman, BAPPEDA Kabupaten Sleman dan Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman. Dari hasil penggabungan foto udara dan pemetaan didapatlah peta lengkap tampilan udara serta batas wilayah intervensi yang menjadi dasar untuk melakukan survey lapangan. Tinjau lapangan dilaksanakan dengan mengambil sampel air di wilayah sekitar sumur Kregan dengan radius 500 meter. Survey lapangan ini bertujuan untuk mendapatkan sebaran pola penggunaan lahan dan keadaan kualitas air serta sanitasi di wilayah intervensi. Survey lapangan dilakukan dengan transect walk yaitu dengan berjalan mengelilingi semua wilayah yang masuk ke dalam zona intervensi untuk mendata pola penggunaan lahan serta melakukan identifikasi terhadap penggunaan lahan yang mempunyai potensi pencemaran lingkungan. Untuk mempermudah surveyor dalam melakukan identifikasi, dibuatlah legenda atau klasifikasi penggunaan lahan agar hasil yang didapatkan bisa langsung dapat diklasifikasikan. Klasifikasi ini dilakukan dengan dasar kesamaan pola produksi air limbah atau sampah yang mempunyai potensi pencemaran lingkungan. Dalam program ini, klasifikasi pola penggunaan lahan yang digunakan adalah permukiman, sawah (lahan pertanian), kolam ikan, industri, bengkel, rumah makan/restaurant, toko, sumur PDAM, institusi pendidikan, kantor, perhotelan, makam, tempat ibadah, TPS/TPA, tanah kosong, lahan hijau (selain lahan pertanian). Dengan adanya klasifikasi ini meminimalisir banyaknya penggunaan lahan yang sama yang tercatat secara berulang-ulang dan menyulitkan dalam input data nantinya. (***Bidang Fisik dan Prasarana)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of