BAPPEDA SLEMAN SELENGGARAKAN SOSIALISASI 5 S

Bertempat di Aula Bappeda Sleman, pada hari Selasa dan Rabu, 7 Januari 2014 dan 8 Januari 2014 di selenggarakan Sosialisasi 5 S. Acara ini diikuti oleh seluruh kepala bidang, kepala sub bagian / kepala sub bidang serta staf Bappeda Sleman. Bertindak sebagai nara sumber  Bambang Ontoseno, S.ST, S.E, M.M serta Yudan Istiawan, S.P, M.P dari Balai Besar Latihan Ketransmigrasian Yogyakarta. Sosialisasi 5 S ini dilaksanakan dua hari, hari pertama penyampaian materi sedangkan hari kedua praktek aplikasi 5 S. kegiatan ini dimulai dari pukul 08.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Dalam sambutan pembukaannya Sekretaris Bappeda Sleman, Drs. Kunto Riyadi, MPPM menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi 5 S ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas seluruh karyawan Bappeda, mulai dari pimpinan hingga seluruh  staf. Oleh karena itu ditengah-tengah kesibukan kuita diawal tahun kita luangkan waktu untuk m engikuti kegiatan ini guna meningkatkan kinerja organisasi. Terlebih lagi pada tahun 2014 ini kita juga mulai mengaplikasikan SKP.

Dari realita dilapangan kita melihat bahwa Negara Jepang setelah babak belur akibatb terlibat dalam perang dunia II ternyata dapat dengan cepat bangkit dari keterpurukan karena mereka mengaplikasikan metode ATM. Metode ATM ini adalah Amati, Tiru, Modifikasi. Oleh karena itu apabaila ada nilai-nilai budaya yang baik dari bangsa lain tidak ada salahnya kita juga mencoba untuk mengaplikasikannya, yang tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di masyarakat kita. Budaya 5 S ini juga merupakan budaya dari Jepang yakni S1 = Seiri (sisih), S2 = Seiton (Susun), S3 = Seiso ( Sasap), S4 = Seiketsu (sosoh) dan S5 = Shitsuke (Suluh).  Saya mengharapkan agar materi yang disampaikan dalam kegiatan ini dapat dipahami untuk  selan jutnya di aplikasikan dalam organisasi kita.

Sementara itu dalam materinya Bambang Ontoseno mengemukakan bahwa  5 S ini sudah menjadi kebiasaan umum di jepang. Kebiasaan orang Jepang ini kemudian di organisir oleh 3 orang konsultan Japan Productivity Center (JPC) yakni Yasushi Fukuda, Kazuo Tsuchya dan hajime Suzuki. Di Indonesia, 5 S ini sudah dipublikasikan sejak tahun 1990.

Lebih lanjut Bambang Ontoseno  menyampaikan bahwa S1= Seiri (sisih) merupakan upaya untuk menyisihkan barang-barang yang tidak diperlukan ditempat kerja.  Sedangkan S2 = Seiton (Susun) yakni kegiatan menyusun barang-barang yang diperlukan supaya mudah ditemukan oleh siapa saja bila diperlukan. Simpan barang sejenis di satu tempat. Selain itu segala sesuatu ada pada tempatnya. Adapun S3 = Seiso ( Sasap) yakni bersihkan tempat kerja dengan teratur, sehingga tidak terdapat debu dilantai, dimesin dan diperalatan.  Untuk S4 = Seiketsu (sosoh)  adalah pelihara  taraf kepengurusan  rumah tangga yang baik dan organisasi tempat kerja setiap saat. Sedangkan  S5 = Shitsuke (Suluh) yakni suluh semua orang mematuhi disiplin pengurusan rumah tangga yang baik atas kesadaran sendiri.

Sementara itu  Yudan Istiawan menyampaikan bahwa 5S dapat dipalikasikan secara bertahap. Pada tahap awal  selenggarakan pertemuan dengan eselon IV dan III untuk mendapatkan  komitmen dan membuat komitmen bersama. Selain itu juga laksanakan inspeksi keliling untuk mengamati lingkungan kantor oleh pimpinan. Selanjutnya tentukan lokasi tempat kerja sebagai objek. Pada tahap permulaan, jangan pilih tempat kerja yang luas dan sulit untuk  lokasi kerja sebagai objek. Pilih lokasi kerja terkecil, mudah tetapi sanagt penting dan dapat segera memperlihatkan hasil secara visual sehingga member motivasi yang kuat. Setelah berhasil, barulah pindah ke area yang lebih luas. * * *

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of