BAPPEDA SLEMAN Jalan Parasamya No.1, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511, Telp/Fax 0274-868800, bappeda@slemankab.go.id

BAPPEDA SLEMAN SELENGGARAKAN SEMINAR KAJIAN KELAS KHUSUS OLAHRAGA

Bertempat di Aula Bappeda Sleman, pada hari Senin tanggal 24 November 2014 diselenggarakan Seminar Kajian Kelas Khusus Olahraga. Hadir dalam acara seminar ini Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan Dra. Suyamsih, M.Pd, Dr. Sugeng Purwanto M.Pd, Awan Hariono, M.Or  selaku nara sumber Kelas Khusus Olahraga  (KKO) SMP dan Devi Tirtawirya, M.Or selaku nara sumber Kelas Khusus Olahraga SMA. Turut hadir dalam acara tersebut Kepala  Bappeda Kabupaten Sleman drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes.

Dalam laporannya, Kepala  Bappeda Kabupaten Sleman drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes menyampaikan bahwa pada saat ini di Kabupaten Sleman ada 5 (lima) sekolah yang menyelenggarakan Kelas Khusus Olahraga, yaitu SMP N 1 Kalasan, SMP N 2 Tempel, SMP N 3 Sleman, SMA N 2 Ngaglik dan SMA N 1 Seyegan. Untuk SMP N 1 Kalasan dan SMP N 2 Tempel ditunjuk sebagai penyelenggara KKO  berdasarkan SK Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2010 nomor 1375/C3/DS/2010 tentang Penetapan Sekolah Penyelenggara Program Kelas Olahraga Tahun 2010, dengan pertimbangan bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dibidang olahraga, perlu diselenggarakan program pembinaan olahraga melalui kelas olahraga dan kelas olahraga tersebut dimaksudkan sebagai wadah untuk mengembangkan potensi dan bakat olahraga yang dimiliki siswa.

PAPARAN

Lebih lanjut drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes mengemukakan bahwa untuk SMP N 3 Sleman, SMA N 2 Ngaglik dan SMA N 1 Seyegan ditunjuk sebagai penyelenggara Kelas Khusus Olahraga berdasarkan keputusan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman Nomor 154/KPTS/2013 tentang penunjukkan Penyelenggaraan Kelas Khusus Olahraga (KKO) Sekolah Tingkat SMP dan SMA Kabupaten Sleman Tahun Ajaran 2013-1014 dengan pertimbangan bahwa untuk pembibitan dan pembinaan prestasi olahraga pelajar perlu diselenggarakan Kelas Khusus Olahraga Pelajar tingkat SMP dan SMA Kabupaten Sleman Tahun 2013. Namun demikian apakah pelaksanaan Sekolah penyelenggara Kelas Khusus Olahraga ini sudah sesuai dengan harapan atau belum, maka untuk mengetahuinya diperlukan adanya kajian khusus kelas olahraga.

Selama ini siswa-siswa Sleman banyak yang berprestasi di bidang olahraga, tetapi justru tidak mewakili sekolah dari Sleman. Hal ini dikarenakan mereka lebih memilih sekolah di luar Sleman. Hal ini perlu digali lebih mendalam mengapa  siswa SMP maupun SMA dari Sleman lebih memilih menjadi siswa di luar Sleman daripada tetap bersekolah di Sleman. Melalui seminar ini diharapkan masukan dari berbagi pihak agar kajian ini berguna untuk meningkatkan kualitas sekolah KKO di Kabupaten  Sleman.

Sementara itu dalam paparannya Awan Hariono, M.Or  selaku nara sumber Kelas Khusus Olahraga  (KKO) SMP  mengemukakan bahwa tahap pertama pada Sistem Pembibitan Olahraga adalah Pemanduan dan Pengembangan Bakat. Pemanduan dan pengembangan bakat merupakan awal penting untuk mendapatkan bibit atlet berbakat yang potensial dan memberikan peluang yang besar untuk dikembangkan menjadi atlet berprestasi dikemudian hari.  Sampai saat ini harus diakui bahwa banyak intrumen pemanduan bakat yang hanya mampu melakukan pembeda antara atlet yang melakukan dengan baik dan yang melakukannya dengan hasil yang kurang baik. Namun mana kala sampai pada pembuktian bahwa instrument tersebut memang mencerminkan keberbakatan anak pada cabang olahraga tertentu sampai saat ini masih menjadi perdebatan dan sulitnya pembuktian karena belum ada yang melakukan penelitian secara longitudinal yang mengikuti anak sampai pada usia prestasi tinggi. Dari hasil FGD (Focus Group Discussion) dengan para stake holder  KKO  tingkat SMP menunjukkan bahwa ternyata terdapat permasalahan yang relatif kompleks pada penyelenggaraan KKO tingkat SMP di kabupaten Sleman. Adapun permasalahan yang disoroti cukup tajam adalah permasalahan sarana prasarana, kurikulum serta sumber dana dan pembiayaan

Sedangkan Devi Tirtawirya, M.Or selaku nara sumber Kelas Khusus Olahraga SMA dalam paparannya mengemukakan bahwa dari hasil FGD (Focus Group Discussion) dengan para stake holder  KKO  tingkat SMA menunjukkan bahwa ternyata terdapat permasalahan yang relatif kompleks pada penyelenggaraan Kelas Khusus Olahraga tingkat SMA di kabupaten Sleman. Adapun permasalahan yang disoroti cukup tajam adalah permasalahan sarana prasarana, kurikulum serta sumber dana dan pembiayaan. KKO SMA di kabupaten Sleman yang baru berdiri sekitar 2 tahun yang lalu memang layak untuk dilanjutkan, tetapi perlu adanya penyempurnaan baik secara managerial, perekrutan pelatih, perekrutan atlet, sarana-prasarana dan kerjasama dengan instansi terkait. Kelemahan atau kekurangan yang ada masih dalam tingkat yang wajar, sehingga masih bisa untuk diperbaiki bahkan ditingkatkan ke arah yang lebih baik lagi.

Lebih lanjut Devi Tirtawirya, M.Or  menyampaikan bahwa KKO SMA di Sleman belum bisa menjembatani atlet-atlet Sleman secara utuh, buktinya masih banyak atlet potensi yang menyeberang ke daerah lain. Prestasi yang belum maksimal harus dijadikan pemicu untuk meningkatkan kinerja di segala lini yang mendukung KKO SMA di Sleman. Kurangnya koordinasi yang baik antara pengelola, pihak guru mata pelajaran, dinas pendidikan serta dinas-dinas terkait juga sebagai pemicu kurang maksimalnya KKO SMA di Kabupaten Sleman. Faktor yang menjadikan KKO di Kabupaten Sleman masih kalah dengan kabupaten dan kota yang lain di DIY salah satunya adalah kesejahteraan pelatih dan atlet.

Adapun pembahas Kajian Kelas Khusus Olahraga SMP, Dra. Suyamsih, M.Pd. menyampaikan bahwa dalam kajian ini perlu dicantumkan adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) KKO sehingga dengan adanya SPM tersebut KKO di Kabupaten Sleman bisa dianggap layak atau tidak layak. SPM tersebut meliputi seluruhnya seperti fasilitas, kurikulum dan sebagainya. Selain itu, perlu ada juga SPM berdasarkan kecabangan olahraga. Selain itu seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan juga harus satu kata dalam pengelolaan KKO sehingga perlu ada komitmen yang disepakati bersama karena hal tersebut menimbulkan suatu konsekuensi. Perlu diberikan pemahaman kepada stakeholder bahwa keunggulan sekolah tidak harus di bidang akademik tetapi juga di bidang nonakademik seperti olahraga. KKO dapat memberikan rasa kebanggaan jika dikelola dengan baik.

Lebih lanjut Dra. Suyamsih, M.Pd mengatakan perlu adanya kerja sama dengan pihak lain misalnya Universitas Negeri Yogyakarta. Mahasiswa UNY diminta untuk praktik ke sekolah-sekolah yang menyelenggarakan KKO. Selain itu juga perlu menjalin kerja sama dengan KONI, sehingga jika KONI mengadakan kompetisi sekolah yang memiliki KKO boleh berpartisipasi. Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah pembiayaan KKO yang harus difokuskan untuk membimbing dan membina KKO minimal untuk mencapai SPM. Apabila sudah kuat baru dikembangkan. Oleh karena itu, Disdikpora mengusulkan untuk pembinaan 5 sekolah yang memiliki KKO dan mulai memperbaiki DPA-nya untuk menindaklanjuti hasil kajian ini. Jika KKO tidak mempunyai fasilitas olahraga sebaiknya jangan membuka cabang olahraga tersebut sehingga terkesan memaksakan. Disdikpora perlu mengadakan pemetaan cabang olahraga yang dikelola oleh KKO. Tindak lanjut dari kajian ini diharapkan Disdikpora Sleman menyusun masterplan KKO karena Bappeda membuat kajian yang lebih makro.

Sementara itu pembahas Kajian Kelas Khusus Olahraga SMA Dr. Sugeng Purwanto, M.Pd mengemukakan bahwa kajian harus berangkat dari latar belakang yang kuat sehingga tidak terkesan hanya sebagai proyek. Dalam kajian harus ada permasalahan yang terjadi dan bagaimana solusi pemecahannya sehingga muncul rekomendasi yang dapat diterapkan. KKO harus menentukan dan memastikan olahraga unggulan yang akan dipilih sehingga tidak berganti-ganti cabang olahraga. Kurikulum merupakan hal yang sangat penting dalam KKO, dahulu di SMA Ragunan hanya sebanyak 25% siswa yang lulus karena kurikulum sama persis dengan SMA reguler.

Lebih lanjut Dr. Sugeng Purwanto, M.Pd menyampaikan bahwa perlu adanya sosialisasi KKO SMA kepada kepala sekolah SMP, sehingga kepala sekolah di seluruh Kabupaten Sleman mengetahui dan bisa mengarahkan anak-anak yang berprestasi olahraga untuk melanjutkan ke KKO SMA. Selain itu juga perlu adanya kerja sama dengan perguruan tinggi agar lulusan SMA KKO bisa diterima dan melanjutkan pendidikannya. Proses rekrutmen harus dipantau dan melibatkan orang independen sehingga yang diterima benar-benar bukan merupakan titipan. (Bidang Sosbud) *  *  *

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of