Artikel ini berjudul “Semua Jalan Bertaburan Angka Kredit” merupakan sebuah harapan  penulis dan semangat optimistis untuk tetap berkomitmen dan berkarier sebagai Pejabat Fungsional Perencana (PFP). Judul tersebut secara tidak langsung memberikan semangat kepada para PFP untuk terus bekerja, belajar, dan mengembangkan diri untuk dapat memperoleh angka kredit. Tulisan ini merupakan refleksi penulis ketika mengikuti diklat fungsional perencana. Semoga tulisan ini memberikan gambaran dan saran bagi semua pemangku diklat untuk memahami kesulitan para PFP ketika mengajukan penilaian angka kredit.

Diklat Jabatan Fungsional Perencana (JFP) baik tingkat pertama dan tingkat muda yang pernah penulis ikuti, tidak ada satupun yang menggambarkan secara teknis bagaimana memperoleh angka kredit, bagaimana strategi dalam memperoleh angka kredit, dan bagaimana proporsi dari setiap unsur dalam perolehan angka kredit. Pertanyaan yang sering diajukan oleh peserta diklat (terutama setelah diangkat menjadi JFP) adalah bagaimana menterjemahkan kegiatan harian menjadi angka kredit. Namun, disisi lain para PFP yang baru diangkat, belum memahami, jika sebenarnya ada proporsi tertentu yang harus dipenuhi apabila PFP tersebut akan mengajukan naik jabatan atau naik pangkat.

Pengalaman penulis mengikuti diklat fungsional perencana tingkat pertama XIII selama 7 (tujuh) minggu, kita banyak sekali dibekali ilmu dasar yang sangat banyak, antara lain yaitu:

  1. Ilmu Dasar dalam Bidang Ekonomi;
  2. Ilmu Dasar dalam Bidang Sosial;
  3. Ilmu Dasar dalam Bidang Spasial;
  4. Ilmu Dasar dalam Bidang Perencanaan;
  5. Ilmu Dasar dalam Bidang Kebijakan.

Kelima bidang ilmu tersebut sangat bermanfaat bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berkeinginan untuk menduduki Jabatan Fungsional Perencana. Namun sayangnya dalam diklat tersebut tidak digambarkan secara teknis kegiatan apa saja yang dapat diklaim untuk penilaian angka kredit, bagaimana cara membuat dan menyusun bukti fisik yang harus dilampirkan saat mengajukan penilaian angka kredit dan kendala yang seperti apa yang nantinya akan dihadapi saat menjadi seorang JFP. Tulisan ini mencoba untuk menelaah bagaimana strategi bagi seorang Pejabat Fungsional Perencana (PFP) untuk memperoleh angka kredit.

Hampir semua peserta diklat yang mengikuti diklat JFP belum menyadari betapa pertarungan di dunia fungsional memerlukan kesungguhan dan kreatifitas untuk memperoleh angka kredit. Bayangan mereka masih sekitar kenyamanan dalam bekerja tanpa tekanan, tanpa ada atasan yang mengawasi, dan tanpa deadline waktu yang ketat. Bayangan tersebut ditambah dengan iming-iming bahwa akan cepat naik pangkat, dengan tunjangan fungsional yang lumayan, akan semakin meninabobokan para PFP.

Haryanto (2013) menyatakan bahwa JFP merupakan jabatan profesi bagi PNS yang bekerja di unit kerja perencanaan. JFP ini bukan merupakan jabatan alternatif maupun jabatan pilihan bagi PNS. Namun JFP merupakan jabatan profesi yang bersifat penugasan bagi seorang PNS yang dikarenakan tugas pokok dan fungsinya sebagai perencana.

Saat penulis mengikuti diklat fungsional perencana tingkat pertama, rata-rata PNS yang mengikuti diklat ini adalah PNS golongan III/a dan III/b dari instansi Bappeda Kabupaten/Kota dan Bagian Perencanaan dari Kementrian dan Lembaga Negara yang masih memiliki semangat tinggi dan harapan yang besar dapat berkarir sebagai JFP. Mereka belum menyadari bagaimana sistem birokrasi saat ini yang belum menguntungkan posisi JFP. Hal tersebut diperburuk dengan ketidakpedulian pimpinan instansi atas pengembangan profesi JFP. Banyak kasus dimana PFP merasa dinomorduakan, dan hanya sebagai tenaga cadangan dalam percaturan disposisi penugasan.

Kesulitan tersebut tidak seharusnya membuat para PFP patah semangat. Haryanto (2013) menyatakan bahwa ada beberapa tip dan strategi untuk naik pangkaat dan atau jabatan dalam kurun waktu 2 tahun. Tip dan strategi tersebut adalah:

1. Memahami konsep dan sistem JFP.

Satu hal yang cukup penting bagi para PFP adalah memahami konsep dan sistem JFP. Berkarir dalam jabatan fungsional perencana berbeda dengan jabatan struktural. Dalam jabatan struktural PNS tidak perlu repot-repot untuk mengumpulkan angka kredit, karena kenaikan pangkat akan otomatis diurus oleh pejabat kepegawaian, sedangkan dalam jabatan fungsional kenaikan pangkat dan jabatan akan sangat tergantung dari individu para PFP ini. Kenaikan jabatan dan pangkat akan sangat terkait dengan jumlah angka kredit yang telah dikumpulkan dan proporsi angka kredit tersebut sudah memenuhi syarat untuk naik jabatan.

2. Membiasakan diri untuk tertib dalam administrasi dan dokumentasi atas tugas sehari-hari (surat tugas/disposisi/laporan hasil penugasan).

Untuk memudahkan dalam menyusun laporan angka kredit termasuk bukti fisik, diperlukan tertib administrasi dan dokumentasi atas tugas sehari-hari dari para PFP.

3. Bekerja secara tim akan lebih menguntungkan.

Karakteristik dalam sistem JFP adalah dimungkinkannya melakukan kegiatan perencanaan dalam bentuk tim/kelompok, baik untuk pengembangan profesi maupun untuk kegiatan perencanaan. Bekerja bersama-sama dalam bentuk tim akan lebih dinamis daripada bekerja sendiri. Penyelesaian masalah dan pengembangan gagasan-gagasan dalam forum bersama akan lebih berpengaruh terhadap kualitas hasil/rencana dan akan mempercepat penyelesaian pekerjaan, sehingga akan berpengaruh terhadap jumlah hasil kegiatan perencanaan.

4. Self assessment setiap 3 (tiga) bulan untuk melakukan rekapitulasi surat tugas, surat pernyataan melakukan kegiatan dan laporannya, serta DUPAK.

Kegiatan pengumpulan dokumen perencanaan dan penyusunan format dokumen akan sangat menyita waktu. Untuk itu sangat disarankan untuk melakukan self assessment setiap 3 (tiga) bulan untuk melihat progress perolehan angka kredit perencana.

5. Konseling dengan Kepala Biro Perencanaan/Kepegawaian /Pusbindiklatren/PFP Senior.

Melakukan diskusi mengenai sistem JFP kepada pihak yang dianggap kompeten dengan sistem JFP sangat direkomendasikan.

6. Membangun networking.

Pengalaman menunjukkan bahwa unit kerja dimana PFP berada, biasanya kurang memadai dalam menfasilitasi kegiatan pengembangan profesi, seperti untuk penulisan/penerbitan buku, makalah, artikel, dan seminar. Padahal kegiatan pengembangan profesi mendominasi nilai angka kredit yang dipersyaratkan ketika PFP mengusulkan penilaian angka kredit. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pengembangan jaringan kerjasama dengan institusi perencana atau dengan para PFP di unit kerja lain.

7. Menentukan target.

Menentukan target ini menjadi penting ketika PFP menginginkan untuk naik pangkat selama 2 tahun. Target tersebut harus dihitung berdasarkan kebutuhan dan proporsi angka kredit yang diperlukan oleh seorang PFP.

Sebagai penutup, artikel ini merupakan sebuah harapan bagi Pejabat Fungsional Perencana untuk menjadi penyemangat membuat laporan dan bukti fisik untuk dapat dinilaikan sebagai angka kredit. Semua tip dan strategi untuk memperoleh angka kerdit diambil dari bukunya Dr. Haryanto (perencana utama) dengan judul “Strategi Efektif Berkarir dalam Jabatan Fungsional Perencana”. (JFP-abdur rahman).