Penyelenggaraan seminar hasil evaluasi pelaksanaan recoveri pasca bencana Merapi tahun 2011 ini merupakan salah satu upaya kita dalam melengkapi  data-data yang dibutuhkan. Mengingat hingga saat ini masih ada data-data dari SKPD yang belum  lengkap. Padahal keberadaan data tersebut sangat penting dalam melakukan analisis. Penyelanggaraan kegiatan ini adalah untuk mengetahui apakah program rehab / rekon telah diimplementasikan dengan baik .

Demikian yang disampaikan oleh Kepala Bappeda Kabupaten Sleman , drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes saat membuka seminar hasil evaluasi program rehabilitasi dan rekonmstruksi bencana Merapi Kabupaten Sleman  Tahun  2011. Seminar tersebut diselenggarakan pada hari Jum’at tanggal 30 Desember 2011 bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Sleman. Adapun peserta seminar ini adalah SKPD dilingkungan Pemkab Sleman. Bertindak sebagai nara sumber Dr. Erwan Agus Purwanto dari UGM Yogyakarta.

Dalam paparannya Dr. Erwan Agus Purwanto mengungkapkan  bahwa meskipun gunung merapi berbatasan  dengan  empat kabupaten yakni, Sleman, kabupaten Magelang, Boyolali dan Kabupaten Klaten, namun Kabupaten Sleman merupakan pemiliki yang dominan gunung Merapi. Selain itu Dr. Erwan Agus Purwanto juga menyampaikan adanya perbedaan antara Pemkab Sleman dan BNPB  dalam penyusunan DALA (Damage and Losses Assessment). Dalam DALA versi Pemkab Sleman nilai total kerugian dan kerusakan mencapai Rp 5,4 trilyun. Sedangkan DALA versi BNPB  nilai total kerusakan dan kerugian mencapai   Rp 2, 1 trilyun. Perbedaan tersebut terjadi karena subsektor yang digunakan dalam melakukan DALA antara Pemkab Sleman dan BNPB berbeda. Berdasarkan DALA yang dilengkapi dengan hasil Human Recovery Needs Assessment (HNRA), Pemkab Sleman membuat Rencana Aksi untuk melakukan kegiatan rehab/rekon.

Hasil analisis yang dilakukan oleh Dr. Erwan Agus Purwanto berdasarkan data yang ada hasil sementara yang diperoleh adalah adanmya ketidak sesuaian antara DALA dan HRNA dengan Rencana Aksi yang dibuat oleh masing-masing SKPD. Terjadinya missmatch tersebut dikarenakan respon terhadap dampak, dipecah-pecah secara sektoral, yang tidak selalu cocok.

Lebih lanjut Dr. Erwan Agus Purwanto mengungkapkan bahwa tujuan evaluasi adalah untuk menilai suatu kebijakan/program kinerja menggambarkan kemampuan program dalam mencapai berbagai tujuan yang tela ditetapkan. Adapun evaluasi program tersebut terdiri dari beberapa jenis yaitu :

  • Ex-ante atau sebelum program diimplementasikan.
  • On going atau pada saat program diimplementasikan
  • Ex-post atau setelah program selesai diimplementasikan.  * * *