Pada tanggal 25 November 2015 bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Sleman, telah dilaksanakan seminar akhir kegiatan penyusunan rencana pengembangan investasi berbasis sektor potensial inklusif yang akan dituangkan menjadi Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengembangan Investasi Inklusif di Kabupaten Sleman untuk 5 tahun mendatang. Investasi inklusif adalah investasi yang memberikan manfaat yang besar kepada semua stakeholder baik investor itu sendiri, pemerintah dan terutama masyarakat, selain itu juga tidak memberikan dampak negative bahkan mampu memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan. Peserta Seminar berasal dari instansi teknis di Sleman dan DIY, investor dan perwakilan perusahaan dan asosiasi petani dan usaha di Kab. Sleman, akademisi dan camat dari beberapa kecamatan yang ada di Kab. Sleman.

Seminar diawali dengan paparan dari narasumber kegiatan yaitu Akhmad Syari’udin, SE, M.Si dari FE UPN Yogyakarta beserta tim. Dari hasil kajian diperoleh data dan informasi mengenai kondisi dan tingkatan inklusifitas 3 sektor potensial inklusif di Kabupaten Sleman, yaitu Sektor Pertanian, Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran, serta Sektor Industri Pengolahan sebagaimana telah dirumuskan pada kajian terdahulu. Untuk menyusun RAD, digunakan 2 analisis yaitu pertama, analisis gap antara kondisi ideal inklusif dengan kondisi yang ada dilapangan untuk masing-masing sektor, yang kemudian dirumuskan akar permasalahannya, baru kemudian dirumuskan strategi, kebijakan program dan kegiatan untuk mengatasi akar masalah dan mengurangi gap antara kondisi ideal dengan kondisi riil sektoral. Analisis gap ini dapat dilakukan karena untuk pengukuran/parameternya digunakan parameter mikro inklusifitas yang terdiri dari 7 parameter, yaitu; tingkat pemanfaatan dan kemanfaatan produk dan bahan baku lokal, tingkat pemanfaatan tenaga kerja lokal, tingkat pemberdayaan supplier dan distributor lokal, tingkat kemampuan menumbuhkembangkan usaha pendukung dan sekitar, tingkat kontribusi terhadap kelestarian dan penataan lingkungan, tingkat dukungan terhadap pembangunan masyarakat sekitar dan tingkat kontribusi dalam mendorong kinerja perekonomian lokal.

Analisis kedua adalah analisis isu strategis sektoral yang berhubungan erat dengan kinerja sektoral, setelah diidentifikasi akar permasalahan dan kondisinya, baru kemudian dirumuskan strategi, kebijakan, program dan kegiatan guna mengatasi permasalahan tersebut. Untuk memperoleh data dan informasi dalam perumusan kajian ini, dilakukan survey dan in depth interview dengan lebih dari 20 perusahaan di ketiga sektor potensial inklusif yang ada di Kabupaten Sleman. Untuk merumuskan strategi, kebijakan, program dan kegiatan, dilakukan melalui FGD, in-depth interview dan diskusi intensif dengan SKPD dan pelaku investasi yang ada di Kabupaten Sleman.

Untuk menentukan tingkatan inklusifitas, dirumuskan besaran nilai dengan rentang antara 0 < 35% dikategorikan rendah, 35 – 65% dikategorikan sedang, dan > 65% dikategorikan tinggi tingkat inklusifitasnya. Dari hasil penenlusuran, diketahui bahwa Sektor Pertanian memiliki tingkat inklusifitas yang relatif tinggi, dengan skor 66,66%. Tingkat inklusifitas di Sektor Pertanian masih dapat ditingkatkan dengan berbagai rumusan program dan kegiatan diantaranya; peningkatan link and match antara permintaan dan produksi bahan baku dan produk pertanian, pengembangan komoditi pertanian dengan value added tinggi, peningkatan pengolahan paska panen, fasilitasi branding dan kerjasama antara kelompok tani dengan pelaku distribusi dan pemasaran baik di dalam maupun luar negeri, optimalisasi CSR ke Sektor Pertanian, pengembangan teknologi tepat guna, rekayasa genetika dan peningkatan kuantitas dan kualitas SDM pertanian khususnya generasi muda. Untuk mengatasi isu strategis di Sektor Pertanian, dirumuskan beberapa kebijakan, strategi, program dan kegiatan diantaranya; pengembangan kawasan pertanian organik dan agrowisata, pengembangan kawasan pertanian dengan komoditi yang memiliki value added tinggi, pengembangan kawasan minapadi dan ugadi, peningkatan investasi perbenihan hortikulutra, land banking dan penyelamatan lahan rawan alih fungsi, pengembangan program “Aku Bangga Jadi Petani” dan pengembangan sistem informasi pasokan dan jaringan pemasaran produk pertanian unggulan.

Untuk Sektor PHR, skor tingkatan inklusifitas sebesar 54,52% atau tergolong kategori sedang, dimana nilai yang relative lebih rendah adalah untuk tingkat pemberdayaan supplier dan distributor lokal, kontribusi terhadap lingkungan dan pemanfaatan produk dan bahan baku lokal. Adapun kebijakan, strategi, program dan kegiatan yang dirumuskan untuk meningkatkan inklusifitas Sektor PHR antara lain; peningkatan serapan produk dan bahan baku lokal melalui regulasi, peningkatan serapan tenaga kerja lokal melalui kerjasama pelatihan dan rekrtumen antara Pemerintah Daerah dengan Sektor PHR, penciptaan sinergi dan penumbuhan usaha pendukung dan usaha lain di sekitar hotel, penegakan regulasi terkait dengan penggunaan ABT dan Ruang Terbuka Hijau serta peningkatan CSR bagi pembangunan masyarakat sekitar. Untuk mengatasi permasalahan dalam isu strategis, dirumuskan kebijakan, strategi, program dan kegiatan diantaranya; peningkatan kapasitas pasar dan toko tradisional, penetapan kawasan untuk PHR, penanganan permasalahan sosial di kawasan sekitar PHR dan peningkatan penggunaan PDAM bagi PHR.

 Untuk Sektor Industri Pengolahan, nilai inklusifitasnya sebesar 48,76% dan tergolong kategori sedang. Nilai rendah di sektor ini terletak pada tingkat pemberdayaan supplier dan distributor lokal, tingkat kontribusi dalam mendorong kinerja perekonomian lokal, kemampuan menumbuhkembangkan usaha pendukung dan sekitar, pemanfaatan bahan baku, produk dan tenaga kerja lokal. Adapun kebijakan, strategi, program dan kegiatan untuk meningkatkan inklusifitas di sektor ini antara lain; peningkatan serapan produk dan bahan baku lokal melalui peningkatan kapasitas produsen, supplier dan distributor produk dan bahan baku lokal, penciptaan sinergi antara sektor ini dengan sektor lain melalui kerjasama lintas sektor, peningkatan serapan tenaga kerja lokal melalui peningkatan kapasitas SDM dan sebaran informasi sampai tingkat desa, penataan industri ke kawasan peruntukkan industri, peningkatan inovasi, daya saing dan kerjasama pengembangan industri lokal. Untuk mengatasi permasalahan dalam isu strategis sektoral, dirumuskan kebijakan, strategi, program dan kegiatan diantaranya pengembangan infrastruktur di kawasan peruntukkan industri dan sentra industri, pengembangan cluster  berbasis IT, dan peningkatan sinergi antara industri menengah besar dengan industri kecil dan mikro yang ada di Kabupaten Sleman.

Kesemua kebijakan, strategi, program dan kegiatan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam RAD selama 5 tahun mulai dari tahun 2017 – 2021. Untuk menjamin keberlangsungan program, rencananya RAD tersebut akan dituangkan kedalam Instruksi Bupati sehingga memudahkan koordinasi dan sinkronisasi program dan kegiatan di SKPD. Semoga pembangunan investasi di Kabupaten Sleman akan lebih mampu memberikan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat dan tetap mampu menjaga dan mempertahankan kelestarian lingkungan. (Bid. Eko)