Beberapa waktu yang lalu Bidang Ekonomi Bappeda menyelenggarakan seminar akhir kajian Penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengentasan Pengangguran. Bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Sleman, seminar ini dihadiri oleh perwakilan dari SKPD terkait baik di Sleman maupun DIY, perwakilan asosiasi pekerja dan pengusaha, serta perwakilan dari LPK. Paparan mengenai hasil rumusan Rencana Aksi Daerah disampaikan oleh Ibu Dini Yuniarti, SE, M.Si. beserta tim dari Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Dari jumlah angkatan kerja di tahun 2014 yang mencapai 560.772 orang, sebanyak kurang lebih 6.17% merupakan pengangguran. Untuk mengatasi masalah pengangguran perlu rumusan rencana aksi yang tepat dan solutif berdasarkan inti permasalahan dari pengangguran itu sendiri. Dalam perumusan Rencana Aksi Daerah Pengentasan Pengangguran, survey telah dilakukan terhadap 170 orang pencari kerja (penganggur) dan 36 perusahaan yang ada di Kabupaten Sleman. Dari kajian, dirumuskan beberapa poin mengenai penyebab dan profil penganggur, diantaranya:

Dari sisi penganggur, para penganggur yang disurvey dapat diklasifikasikan kedalam 2 kelompok berdasarkan usia dan minat, yaitu pertama, kelompok usia < 33 tahun yang minatnya didominasi untuk menjadi tenaga kerja sebesar 84% dan menjadi wirausahawan sebesar 16%, dan kedua, kelompok usia ≥ 33 tahun yang minatnya didominasi untuk menjadi wirausahawan sebesar 65.2% dan menjadi tenaga kerja sebesar 34.8%. 86% dari penganggur yang ada merupakan penganggur terdidik, dan 33.96% keluarga responden merupakan keluarga miskin. Adapun penyebab utama dari munculnya pengangguran adalah motivasi yang rendah dari para penganggur, mentalitas tidak siap kerja, tingkat keterampilan yang rendah, terlalu memilih pekerjaan, stereotype keluarga dan lingkungan, tingkat pendidikan relatif rendah dan adanya keinginan untuk berwirausaha.

Untuk melengkapi sudut pandang mengenai penyebab terjadinya pengangguran, diidentifikasi pula penyebab pengangguran dari sisi perusahaan, dimana diantaranya adalah; ketidaksesuaian gaji, habis kontrak/PHK, tingginya persaingan untuk mendapatkan kesempatan kerja, ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan kualifikasi dan keahlian pencari kerja, informasi lowongan kerja yang terbatas, sampai masalah lokasi kerja yang jauh dan kesulitan transportasi bagi para pencari kerja.

Dari identifikasi penyebab dan permasalahan penganggur inilah kemudian dirumuskan alternatif solusi untuk menangani penyebab dan permasalahan mendasar tersebut. Adapun strategi dan program yang dirumuskan untuk mengatasi permasalahan pengangguran di Kabupaten Sleman, diantaranya ; penguatan karakter calon tenaga kerja melalui character building dan future orientation bagi siswa dan lulusan SMU/SMK, pembentukan Unit Latihan Kerja yang akan bekerjasama dengan perusahaan dan LPK, untuk melaksanakan pelatihan kerja berbasis real job desc, pembentukan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk melaksanakan standarisasi dan sertifikasi tenaga kerja yang dilatih, pengembangan Sistem Informasi lowongan kerja dan usaha serta database pencari kerja di tingkat desa, pembentukan Balai Latihan Kerja (BLK) Career Center, pembentukan, pendampingan dan pembinaan kelompok pencari kerja dan usaha pemula, fasilitasi pembukaan akses bantuan bagi usaha kecil dan pemula melalui optimalisasi dan kerjasama penyaluran Corporate Social Responsibility, intensifikasi bursa kerja khusus bagi masyarakat Sleman dan lulusan BLK, serta analisis kebutuhan infrastruktur dan aksesibilitas di kawasan peruntukkan industri guna pengembangan infrastruktur dan aksesibilitas di kawasan peruntukkan industri.

Strategi dan program tersebut diatas akan dilaksanakan selama 5 tahun kedepan, mulai dari tahun 2017 sampai dengan 2021. Diharapkan melalui program-program yang bersifat inovatif dan solutif tersebut pengangguran di Sleman dapat berkurang secara signifikan, dan peningkatan kualitas dan daya saing SDM di Sleman dapat tercapai.