Inovasi merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan ekonomi dan daya saing daerah. Terjadinya pergeseran ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis pengetahuan menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi merupakan faktor yang semakin menentukan dalam kemajuan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman selama 3 tahun mengalami fluktuasi. Pada tahun 2010 perekonomian tumbuh 4,49% menguat menjadi 5,19% pada tahun 2011. Pada tahun 2012 kinerja sektor-sektor ekonomi mengalami pertumbuhan sebesar 5,20%.

Struktur perekonomian daerah cenderung berubah dari sektor primer beralih ke sektor sekunder dan tersier. Pada tahun 2011 sektor primer sebesar 13,31% sektor sekunder sebesar 28,39% dan sektor tersier sebesar 58,30%. Pada tahun 2012 sektor primer sebesar 13,56%, sektor sekunder sebesar 28,64% dan sektor tersier sebesar 57,51% dan diperkirakan pada tahun 2013 sektor primer sebesar 13,42%, sektor sekunder sebesar 29,05% dan sektor tersier sebesar 57,50%. Empat lapangan usaha pendukung utama perekonomian di Kabupaten Sleman adalah perdagangan, hotel dan restoran, jasa-jasa, industri pengolahan dan pertanian.

Pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian terus turun, permasalahan yang dihadapi adalah semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan belum optimalnya penerapan inovasi di sektor pertanian. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian perlu ditingkatkan melalui inovasi sehingga meningkatkan daya saing dan menyejahterakan petani mengingat penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 137.003 jiwa dan potensi lahan di Kabupaten Sleman mempunyai mikrobia spesifik dengan adanya gunung api Merapi.

Inovasi diarahkan pada 2 pilar yakni sektor pertanian inovatif dan pengembangan UMKM berbasis klaster sehingga di Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Sleman disusun dengan tema “Industri Kreatif Pertanian Untuk Kesejahteraan Masyarakat Melalui Pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja”.Strategi efektif guna membangun pola pikir untuk peningkatan pembangunan daya saing adalah melalui kolaborasi dengan membangun networking antara pemerintah (pusat/daerah), bisnis dan perguruan tinggi. Komponen tersebut kemudian melakukan evaluasi kerangka regulasi untuk mendorong kolaborasi bersama dalam pembuatan kebijakan insentif  (Sistem maupun nominal) serta peningkatan jiwa kewirausahaan.Inovasi tidak dapat berjalan secara parsial, harus merupakan kolaborasi antar aktor yang saling berinteraksi dalam suatu sistem yang disebut sebagai sistem inovasi.

Produk unggulan merupakan produk yang potensial untuk dikembangkan dalam suatuwilayah dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia setempat, serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah. Produk unggulan juga merupakan produk yang memiliki daya saing, berorientasi pasar dan ramah lingkungan, sehingga tercipta keunggulan kompetitif yang siap menghadapi persaingan global.Penetapan produk unggulan daerah dalam Sistem Inovasi Daerah (SIDa) diperlukan untuk dapat memberikan fokus dan prioritas yang jelas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengembangan Sistem Inovasi Daerah.

Berdasarkan Keputusan Menteri dalam Negeri Nomor 050.05/30 Bangda tanggal 7 Januari 1999 produk unggulan suatu daerah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Kandungan teknologi yang cukup menonjol baik industri kecil dan jasa
  2. Mempunyai jangkauan pemasaran yang luas baik lokal, nasional maupun ekspor.
  3. Mempunyai ciri khas daerah, inovatif dan melibatkan masyarakat banyak (tenaga kerja setempat).
  4. Mempunyai kandungan bahan baku lokal yang banyak dan stabil atau melalui pembudidayaan.
  5. Ramah lingkungan
  6. Dapat mempromosikan budaya lokal

Menurut Alkadri, dkk 2001 dalam Daryanto 2003 kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu komoditas tergolong unggul atau tidak bagi suatu wilayah sebagai berikut :

  1. Mampu menjadi penggerak utama (prime mover) pembangunan perekonomian,
  2. Mempunyai keterkaitan kedepan dan kebelakang kuat baik sesame komoditas unggulan maupun komoditas lainnya,
  3. Mampu bersaing dengan produk/komoditas sejenis dari wilayah lain di pasar nasional maupun internasional baik dalam hal harga produk, biaya produksi, maupun kualitas pelayanan,
  4. Memiliki keterkaitan dengan wilayah lain baik dalam hal pasar maupun pasokan bahan baku,
  5. Memiliki status teknologi yang terus meningkat,
  6. Mampu menyerap tenaga kerja berkualitas secara optimal sesuai dengan skala produksinya,
  7. Dapat bertahan dalam jangka panjang tertentu,
  8. Tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal,
  9. Pengembangannya harus mendapatkan berbagai bentuk dukungan (keamanan, sosial, budaya, informasi dan peluang pasar, kelembagaan, fasilitas insentif/disinsentif dan lain-lain),
  10. Pengembangannya berorientasi pada kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Dengan melihat kriteria tersebut, maka produk unggulan Kabupaten Sleman yang dipilih untuk penguatan SIDameliputi :

  1. Padi
  2. Salak pondoh
  3. Kambing PE
  4. Budidaya bambu

Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing nasional yang telah terbukti berhasil dan telah di lakukan oleh banyak negara maju di dunia adalah dengan memperkuat sistem inovasi nasional. Sistem ini diharapkan akan mampu membangkitkan kreatifitas dan inovasi yang diperlukan, agar produk-produk sebuah negara dapat bersaing secara langsung dengan produk negara lain, baik di pasar domestik maupun internasional. Bagi suatu daerah, kemampuan inovasi merupakan faktor daya saing yang sangat penting, terutama dalam menghadapi beberapa kecenderungan sebagai berikut:

  1. Tekanan persaingan global yang terus meningkat ;
  2. Produk semakin kompleks dan memiliki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen; dan
  3. Perubahan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks.

Tujuan utama lainnya adalah untuk meningkatkan daya ungkit (leverage) peran iptek yang sesuai dan spesifik bagi daerah, serta meningkatkan kemampuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam mengakses dan memanfaatkan iptek (dalam arti luas) dan hasil litbangyasa serta mengembangkannya.

Permasalahan kegiatan penelitian dan pengembangan di Sleman antara lain :

  1. Hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan lembaga litbang dan perguruan tinggi belum tercatat dalam suatu Sistem database yang kontinu sehingga banyak hasil penelitian yang tidak diketahui oleh Pemerintah Kabupaten Sleman dan belum dimanfaatkan secara optimal.
  2. Koordinasi dan sinergi lembaga penelitian dalam menghadirkan dan menerapkan ilmu pengetahun dan terknologi masih perlu ditingkatkaan. Hal ini bertujuan mengarahkan kegiatan penelitian bagi kepentingan agar produk yang dihasilkan lebih bermanfaat.

Pembangunan SIDa terdiri atas beberapa pelaku mulai dari pemerintah daerah sampai dengan masyarakat. Keseluruhan pelaku tersebut akan terintegrasi dengan elemen utama adalah sumber daya, kelembagaan dan perkembangan jaringan.

Pembangunan SIDa di Kabupaten Sleman sudah dilakukan hanya saja keseluruhan proses belum terSistem. Tingkat kematangan SIDa Kabupaten Sleman dilihat dengan menggunakan metode ANIS (Analysis of NationalInnovation Systems). Metode ANIS ini mengidentifikasi faktor-faktor penentu tingkat kematangan SIDa dan mengelompokkan menjadi 3 (tiga) level :

  1. Level Makro yang terkait dengan kebijakan inovasi meliputi kebijakan inovasi nasional, kebijakan inovasi daerah, master plan, regulasi pro inovasi, kebijakan klaster, pendidikan dan pelatihan dan R & D foresight.
  2. Level Messo yang terkait dengan dukungan kelembagaan dan program inovasi yaitu : a. Kelembagaan inovasi dengan ruang lingkup pusat transfer teknologi, taman teknologi (technopark), penyedia layanan inovasi, inkubasi teknologi dan bisnis, klaster, program litbang terapan, pendanaan litbang bersama dan intermediasi serta lembaga promosi bisnis; b. Program pendukung inovasi dengan ruang lingkup pembiayaan science, technology & innovation, program litbang dasar, program litbang terapan, pendanaan litbang bersama, intermediasi teknologi, dukungan kewirausahaan, program pengembangan klaster, dan dukungan kerjasama internasional.
  3. Level Mikro yang terkait dengan kapasitas inovasi meliputi universitas, institusi riset dasar, institusi riset swasta, inovator, investor swasta, wirausahawan, UKM dan perusahaan besar.

Metode ANIS menilai tingkat kematangan SIDa pada setiap level yang dipengaruhi oleh sistem yang telah terjalin dan interaksi para aktor. Aktor pada level makro (kebijakan) adalah otoritas publik dan pembuat kebijakan yang menjalankan fungsi menetapkan dan mengatur kerangka kebijakan SIDa. Aktor pada level mikro adalah lembaga-lembaga pendukung inovasi dan program-program pemerintah yang terkait dengan inovasi. Aktor pada level mikro yaitu perusahaan, universitas, institusi kebijakan dan institusi riset.

SIDa adalah keseluruhan proses dalam satu sistem untuk menumbuh kembangkan inovasi yang dilakukan antar institusi pemerintah, pemerintah daerah, lembaga kelitbangan, lembaga pendidikan, lembaga penunjang inovasi, dunia usaha dan masyarakat di daerah. Penguatan SIDa diperlukan untuk mengefektifkan dan efisiensi pengelolaan inovasi dalam rangka eksistensi peningkatan ekonomi daerah.Roadmap penguatan SIDa mengakomodasi seluruh program dan kegiatan yang didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara, anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi, anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota dan lain-lain pendapatan yang sah dan tidak mengikat.

Kabupaten Sleman memiliki beberapa target yang akan dicapai dalam penguatan SIDa, antara lain :

1. Meningkatkan jejaring aktor SIDa

Peningkatan jejaring aktor SIDa diharapkan dapat memacu peningkatan inovasi yang ada di Sleman. Jejaring pelaku yang perlu ditingkatkan adalah elemen lembaga penelitian dan masyarakat. Untuk itu, perlu diberikan insentif kepada inovator baik itu dana penelitian, kompetisi/hibah penelitian serta dana bagi inventor. Jejaring aktor juga perlu mengajak mitra untuk membantu UMKM baik itu untuk pendanaan, pelatihan, pembinaan dan pendampingan serta kegiatan penguatan SIDa lain.

2.  Meningkatkan diseminasi Iptek

Diseminasi Iptek perlu terus dilakukan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing komoditas unggulan Sleman.

3. Meningkatkan implementasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing komoditas klaster Kabupaten Sleman.

Kebijakan Penguatan SIDa adalah meningkatkan kerjasama lembaga litbang dan perguruan tinggi dengan industri. Sedangkan strategi penguatan SIDa Kabupaten Sleman dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Peningkatan inovasi daerah melalui research and development (R & D) dengan membentuk inkubator teknologi

2. Peningkatan promosi produk inovasi

3. Peningkatan keterlibatan dan dukungan masyarakat dalam penguatan SIDa

4. Pengembangan Bisnis Inovation Centre (BIC)/Business Technology Centre (BTC)

5. Pemanfaatn teknologi informasi sebagai media sebaran inovasi

Rencana aksi SIDa langkah pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan organisasi SIDa (pembentukan sekretariat SIDa dan dukungan pembiayaan). Organisasi SIDa ini perlu segera dibentuk dalam rangka mengurusi berbagai potensi inovasi Sleman serta berbagai permasalahan terkait SIDa Sleman. Organisasi ini bertugas menyusun dokumen Roadmap penguatan SIDa, mengintegrasikan program SIDa dalam dokumen rencana strategis kementerian dan lembaga, melakukan sinkronisasi, harmonisasi dan sinergi SIDa, melakukan penataan unsur SIDa secara nasional, melakukan pengembangan SIDa secara nasional, mempersiapkan rumusan kebijakan penguatan SIDa, mengordinasikan penyusunan program dan kegiatan penguatan SIDa secara nasional, melakukan monitoring dan evaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan penguatan SIDa. Sistem pendanaan SIDa ini juga perlu segera diatur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga berbagai upaya pengembangan dapat segera berjalan. Selain itu, perlu diupayakan pembiayaan dari sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

Rencana kedua adalah sosialisasi dan promosi SIDa. Hal ini perlu dilakukan dari tingkat instansi pemerintah, lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi, LSM serta masyarakat dan pihak terkait lainnya. Sosialisasi menyangkut berbagai hal mengenai SIDa serta upaya yang akan dilakukan pemerintah kabupaten sehingga tiap pihak akan mampu mengetahui peran serta dan tanggung jawab serta terpacu untuk mensuskseskan inovasi di Sleman. (Bid. Dalev)