Bertambahnya penduduk lansia dari tahun ke tahun dalam skala lokal maupun  nasional merupakan permasalahan yang harus dihadapi oleh pemerintah. Menurut data dari BPS tahun 2000 tercatat penduduk lanjut usia mencapai 14,4 juta orang. Diperkirakan pada tahun 2010 akan bertambah menjadi 24 juta orang.

Usia harapan hidup di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 68.5 tahun. Sementara di propinsi DIY mencapai 73 tahun. Untuk Kabupaten Sleman usia harapan hidup mencapai 73.8 tahun. Peningkatan usia harapan hidup ini membawa perubahan pada kondisi demografi. Dengan meningkatnya jumlah penduduk lansia dan bertambahnya usia harapan hidup ini tentunya memerlukan suatu strategi dalam penanganannya agar persoalan-persoalan yang muncul dapat diatasi.

Permasalahan yang muncul bagi penduduk lansia antara lain adalah:

a.       aspek kesehatan,

b.       aspek psikologi,

c.       aspek sosial, dan d) aspek ekonomi.

 

Permasalahan tersebut perlu dicarikan solusinya agar dapat memberikan pelayanan dan kenyamanan yang memang menjadi hak setiap warga negara khususnya bagi para lansia. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu rencana dan strategi yang tepat yang dapat dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan dalam hal penanganan para lansia.

Lansia yang dimaksud dalam hal ini adalah penduduk yang telah berusia di atas 60 tahun ke atas. Untuk menentukan kualitas hidup bagi lansia antara lain ditentukan oleh:

1)      faktor biologis, yang dilihat dari sisi

a)      aktivitas hidup sehari-hari,

b)      fungsi kognitif,

c)       status gizi.

2)      psikologi,

3)      status sosial,

4)      kondisi ekonomi.

 

Keberadaan lansia dalam keluarga seringkali menimbulkan permasalahan tersendiri. Keinginan untuk tetap mandiri tanpa mengharapkan bantuan dari pihak lain sering kali menimbulkan kecemasan bagi keluarganya. Perlakuan keluarga terhadap para lansia yang begitu ketat merupakan hal yang sering terjadi di masyarakat. Hal ini disebabkan kekhawatiran yang berlebihan bagi keluarganya karena lansia dipandang sebagai sosok yang tidak mampu dan lemah. Persoalan inilah yang selalu mengemuka di masyarakat.

Persoalan kondisi kesehatan para lansia merupakan suatu proses alami. Oleh sebab itu diperlukan perhatian dan layanan yang khusus bagi para lansia. Pelayanan kesehatan bagi lansia perlu ditangani secara holistik (menyeluruh). Yang perlu dikerjakan dalam penanganan lansia secara holistik adalah:

1)      memandang lansia secara menyeluruh (utuh),

2)      pelayanan secara vertikal dan horisontal, baik kondisi jasmani maupun rohaninya,

3)      pelayanan yang meliputi propotif, prefentif, kuratif, dan rehabitatif.

 

Berkaitan dengan kondisi kesehatan lansia ini, WHO telah memberikan rambu-rambu dalam hal diagnosis penyakit lansia yang meliputi 4 tingkatan, yaitu:

§         desease (penyakit),

§         impairment ( kerusakan atau gangguan),

§         dissabibilty (ketidakmampuan), dan

§         handicap (akibat penyakit yang menyebabkan hambatan sosial).

Menurut tata kerja dan tata laksana, pelayanan lansia dilaksanakan secara multidisipliner yang artinya ditangani dengan melibatkan beberapa sudut pandang keilmuan. Konsep pelaksanaan tersebut adalah:

a.       pelayanan kesehatan lansia yang melibatkan masyarakat,

b.       pelayanan kesehatan lansia di masyarakat yang berbasis pada rumah sakit,

c.       pelayanan kesehatan lansia berbasis rumah sakit. Untuk layanan sosial dengan melibatkan dinas sosial.

 

Dari sisi pendidikan dan ketenagakerjaan, sebagian besar lansia di Indonesia memiliki kualitas yang rendah terutama kaum perempuannya. Jumlah tersebut mencapai 71.2% sehingga kemampuan kerjanya tidak terlatih. Bagi para lansia yang telah purna dari pekerjaannya memiliki persoalan tersendiri. Pada satu sisi sebenarnya para lansia ini memiliki kelebihan pengalaman kerja jika dibandingkan dengan tenaga kerja muda, namun pada sisi yang lain kemampuan fisiknya telah berkurang. Namun demikian tenaga kerja lansia masih merupakan sumber daya yang menguntungkan bagi perusahaan karena memiliki pengalaman kerja yang lebih luas.

Penelitian ini termasuk deskriptif dengan mendiskripsikan fenomena yang ditemukan. Populasi penelitian adalah para lansia yang ada di Kabupaten Sleman yang berjumlah 95.883 jiwa. Teknik pengambilan sampel menggunakan desain klaster. Untuk menghitung jumlah sampel yang mewakili populasi, penentuan proporsi diambil dari akses lansia pada pelayanan kesehatan tahun 2007 sebesar 39.2%. Oleh karena itu P=0.39%, One-half lenght of confidence interval = 0.05, tingkat kepercayaan= 95%, dan jumlah klaster 30. Dari perhitungan tersebut maka jumlah sampel sebesar 750 orang sehingga masing-masing klaster berjumlah 25 orang. Klaster adalah desa. Dari 86 desa yang ada di Kabupaten Sleman, terpilih 27 desa dimana 2 desa memiliki 3 klaster dan 2 klaster. Untuk desa sidoarum terdiri dari 3 klaster, Pakembinangun 2 klaster, sementara desa-desa yang lain hanya 1 klaster (gambar 1 hal. 28). Pemilihan sampel pada klaster ditentukan yang lokasinya berada di tengah pemukiman penduduk. Sampel adalah rumah tangga yang memiliki lanjut usia, baik yang berstatus janda, duda, atau suami istri. Kriteria inklusi untuk lansia yang menjadi responden adalah:

a.       mampu berkomunikasi,

b.       jika responden tidak mampu berkomunikasi wawancara diwakili oleh kerabat terdekat,

c.       jika statusnya masih suami istri ditentukan salah satu,

d.       jika statusnya janda atau duda secara otomatis jadi responden

Penelitian dilakukan selama bulan Juli 2008 dengan melalui tahapan:

1.       pengumpulan data,

2.       pengolahan data,

3.       analisis data. Untuk analisis data dilakukan dengan model deskriptif dengan cara univariat dan bivariat.

Dari hasil analisis data secara univariat diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Responden laki-laki berjumlah 47% dan perempuan berjumlah 53%.
  2. Status kepemilikan rumah, 80% rumah sendiri, 18% milik anak atau menantu, 1% kontrak, 1% lainnya.
  3. Dari status sosialnya ekonominya: 39% miskin, 61% mampu.
  4. Menjalani kehidupan sehari-hari: 13% sendiri, 36% suami/istri, 46% dilayani oleh anak/menantu, 5% lainnya.
  5. Pihak yang dihubungi ketika ada permasalahan atau musibah: 83% anak, 4% saudara, 4% tetangga, 9% teman.
  6. Kelompok umur: 60-70 tahun 50%, 71-80 tahun 36%, lebih dari 81 tahun 14%.
  7. Kemandirian beraktifitas: 92% mandiri, 7% kurang mandiri, 1% ketergantungan.
  8. Aktivitas yang dilakukan: 95% memiliki aktivitas, 5% tidak memiliki aktivitas.
  9. Jenis aktivitas yang dilakukan: berkebun 33%, cuci-masak 13%, menunggui rumah 9%, keagamaan 6%, olahraga 7%, lainnya 32%.
  10. Akses ke pelayanan kesehatan: 57% melakukan pemeriksaan kesehatan 43% tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan.
  11. Pilihan layanan kesehatan: 61% puskesmas, 11% rumah sakit, 15% DPS, 7% BPS, 4% rumah sakit swasta, 2% tradisional.
  12. Jenis penyakit yang diderita: katarak 3%, reumatik 24%, diabetes 4%, hipertensi 21%, osteoporosis 3%, jantun 3%, stroke 2%, sesak nafas 5%, hipertensi-reumatik 6%, hipertensi stroke 1%, dan lainnya 26%.
  13. Kebiasaan merokok untuk laki-laki: 25% merokok, 75% tidak merokok.
  14. Jumlah rokok yang dihisap setiap hari: 83% kurang dari 1 bungkus, 17% lebih dari 1 bungkus.
  15. Aspek psikologi: 97% menyatakan senang menjalani kehidupan lansia, 3% merasa tidak senang.
  16. Kegiatan yang dibutuhkan: 39% imbingan rohani, 53% kelompok lansia, 8% lainnya.
  17. Bentuk layanan kesehatan yang dibutuhkan: 30% kunjungan rumah, 13% kelompok lansia, 21% pus-ling, 31% posyandu, 5% lainnya.
  18. Kepemilikan asuransi: 44% memiliki, 56% tidak memiliki.
  19. Jenis asuransi yang dimiliki: 49% askeskin, 46% askes PNS, 1% jamkessos, 1% JPKM, 3% lainnya.
  20. Sumber pendapatan: 37% memiliki pendapatan yang tetap, 63% pendapatan tidak tetap.
  21. Rata-rata pendapatan: 79% kurang dari 1juta, 19% antara 1-2juta, 2% lebih dari 2juta.
  22. Jumlah pengeluaran per bulan: 30% kurang dari 200 ribu, 31% 200-500 ribu, 16% 500-750 ribu, 10% 700-1juta, 13% lebih dari 1juta.
  23. Sumber penghasilan: 22% pensiunan, 30% hasil dari sawah/ladang, 27% dari keluarga dekat, 2% pemberian orang, 3% bantuan lembaga, 16% lainnya.
  24. Keinginan untuk pelatihan: 51% menyatakan ingin, 49% tidak.
  25. Jenis pelatihan yang diharapkan: 31% usaha industri, 28% bercocok tanam 24% beternak, 17% lainnya.
  26. Suasana tempat tinggal yang diinginkan: 95% bersama keluarga, 4% sendiri, 1% tinggal di panti.
  27. Perlakuan keluarga terhadap lansia: 96% sangat baik, 3% tidak diperhatikan, 1% sering dimarahi.
  28. Interaksi dengan orang lain: 93% melakukan, 7% tidak melakukan.
  29. Bentuk interaksi: 47% kerohanian, 32% arisan, 8% kesenian, 7% olah raga, 1% wisata, 5% lainnya.
  30. Jenis kegiatan yang diinginkan: 37% paguyuban, 38% kerohanian, 8% olah raga, 5% wisata, 6% ketrampilan, 6% lainnya.
  31. Harapan yang dapat dilakukan oleh pemerintah: 32% pemberian asuransi, 28% perbaikan gizi, 27% usaha ekonomi, 13% lainnya.

Sementara hasil analisis yang dilakukan secara bivariat diperoleh hasil sebagai berikut::

  1. Jenis kelamin dan status sosial: 63% dari responden laki-laki berasal dari keluarga yang mampu, sedangkan 75.2% dari responden perempuan berasal dari keluarga miskin.
  2. Status sosial dan kondisi kesehatan: lansia dari keluarga miskin 9.7% merasakan kurang sehat, dan 2.1% merasakan sakit. Lansia dari keluarga mampu 4.8% merasakan kurang sehat, dan 1.7% merasakan sakit.
  3. Status sosial dan tempat pelayanan kesehatan: 66.6% dari lansia miskin menghendaki pelayanan di puskesmas, 57.3% dari lansia mampu menghendaki untuk di puskesmas. Pelayanan dokter praktik swasta untuk keluarga miskin sebesar 14.9%, sementara keluarga mampu 15.1%. Dari keluarga miskin yang memilih di balai pengobatan swasta sebesar 7.4%, sementara dari keluarga lansia mampu 13.5%.
  4. Usia lansia dan jumlah rokok yang dikonsumsi: lansia yang berusia 71-80 lebih dari 1 bungkus per hari sebesar 19.7%, 60-70 tahun yang merokok kurang dari 1 bungkus sebesar 17.5%, sedangkan lansia yang usianya lebih dari 81 tahun sebesar 12.5%.
  5. Status sosial dan rata-rata pendapatan: 96.8% lansia yang berasal dari keluarga miskin memiliki pendapatan kurang dari 1 juta setiap bulannya, namun ada juga yang mempunyai pendapatan lebih dari 2 juta per bulan (0.8%).  Lansia dari keluarga mampu yang memiliki pendapatan lebih dari 2juta perbulan sebesar 3.2%.
  6. Status sosial dan besarnya pengeluaran: 42.7% lansia miskin pengeluaran per bulan kurang dari 200 ribu, 21% dari lansia mampu pengeluaran per bulan 200-500 ribu, sementara 19.1% lainnya mempunyai pengeluaran di atas 1 juta setiapbulannya.
  7. Status sosial dan kegiatan yang diinginkan: 31.6% dari lansia miskin menginginkan adanya gizi tambahan, sementara 35.9% dari keluarga tidak miskin menginginkan adanya asuransi kesehatan. Untuk perbaikan ekonomi lansia miskin sebesar 26.6% sementara dari keluarga tidak miskin sebesar 26.9%.

Dari hasil analisis tersebut, baik secara univariat maupun bivariat, diperoleh kesimpulan bahwa untuk penanganan lansia diperlukan perhatian secara khusus agar persoalan-persoalannya yang ada dapat diselesaikan dengan baik sehingga tidak menjadikan beban bagi mereka. Dalam penangannya diperlukan pihak-pihak terkait seperti Dinas Nakersos, Dinas P2KPM, Dinas Kesehatan, Kesra, Kimpraswil, serta lembaga-lembaga sosial yang mempunyai perhatian terhadap lansia.* * *