Sanitasi, merupakan salah satu  masalah yang sangat serius yang harus segera ditangani dengan baik. Apabila sanitasi tidak segera tangani dengan baik, maka akan timbul permasalahan yang berkaitan dengan masalah kesehatan. Pemasalahan dibidang kesehatan sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat produktivitas. Terganggunya produktivitas menyebabkan timbulnya  masalah kesejahteraan.  Hal ini dikarenakan masalah sanitasi sangat berkaitan erat dengan ketersediaan air bersih. Padahal ketersediaan air bersih merupakan salah satu kunci utama kesehatan masyarakat.

Drs. Kunto Riyadi, MPPM Kepala Bidang Perkotaan Bappeda Sleman mengatakan bahwa berbicara masalah sanitasi ada 2 tema. Yakni on site dan off site. On site itu air limbah diolah (buang) didalam perkarangannya sendiri. Sedangkan off site air limbah disalurkan atau dibuang keluar dari pekarangan. Berkaitan dengan sanitasi yang on site, di Kabupaten Slema  ini lebih dari 90 % warganya sudah memiliki toilet sendiri dirumahnya. Untuk penanganan limbah yang off site pada saat ini kita memiliki dua cara yakni dengan sarana pengolahan limbah terpusat dan ipal komunal. Untuk sarana pengolah limbah yang terpusat di wilayah DIY direncanakan  memiliki 2 unit yakni sarana pengolah limbah di Sewon, Bantul yang dibangun oleh JAICA dan yang satunya direncanakan di Pleret. Sarana pengolah limbah di Sewon untuk menangani wilayah barat Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY). Sedangkan sarana pengolah limbah di Pleret untuk menangani limbah di wilayah timur Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY).
Lebih lanjut Drs. Kunto Riyadi, MPPM, menyampaikan karena alasan teknis tidak semua daerah di KPY dapat dilayani pengolahan limbahnya secara terpusat. Demikian juga yang diluar KPY. Salah satunya dikarenakan elevasi atau ketinggannya yang lebih rendah  dari sarana pembuangan limbah terpusat, sehingga limbah tidak dapat dialirkan ke sarana pengolah limbah terpusat. Juga dikawasan-kawasan perkotaan yang terpisah. Sebagai solusinya untuk kawasan tersebut diperlukan ipal komunal. Drs. Kunto Riyadi, MPPM menjelaskan bahwa sebenarnya program sanitasi lingkungan semacam ini sudah dirintis sejak lama.  Salah atu ipal komunal yang telah dibangun adalah di perumahan Minomartani. Berdasarkan data hingga saat ini setidaknya di Sleman telah terdapat 7  sarana ipal komunal.
Lebih lanjut Drs. Kunto Riyadi, MPPM memaparkan bahwa dana pembangunan sarana Ipal tersebut berasal dari APBN, APBD dan masyarakat. Untuk pembangunan sarana ipal komunal tersebut dilakukan seleksi yang cukup ketat diantara kelompok-kelompok masyarakat yang menginginkan adanya sarana ipal di wilayahnya. Dengan adanya seleksi tersebut menjadikan program sanitasi di Sleman menjadi unik dan menarik. Karena program ini merupakan perpaduan antara bottom up dan top down. Sehingga tingkat keberhasilannya cukup lumayan. Karena biasanya program yang top down itu rasa handarbeni masyarakat terhadap kegiatan tersebut sangat rendah. Di Kabupaten Sleman ini rata-rata daerah yang memperoleh kesempatan untuk membangun sarana ipal komunal ini merupakan daerah yang pernah menjadi juara lomba green and clean.
Sementara itu Kurniawansyah Paimaon Harahap, ST,  Kepala Subbid Lingkungan Hidup Bappeda Sleman mengatakan bahwa ada banyak program sanitasi yang didukung oleh pemerintah pusat. Diantaranya program USRI (Urban Sanitation and Rural Infrastructure). Program tersebut dananya berasal dari World Bank. Program ini juga dikenal sebagai PNPM Sanitasi. Untuk Kabupaten Sleman,  program ini di tujukan untuk wilayah perkotaan dan pedesaan. Berkaitan dengan program ini menurut penuturan Kurniawansyah Paimaon Harahap, ST, pada tahun 2011 ini sedang dilakukan perencanaan. Dan tahun 2012 akan dimulai pelaksanaan kegiatan fisiknya. Untuk melaksanakan program tersebut Kabupaten Sleman hanya perlu menyediakan dana pendampingan untuk administratif laporan sebesar 7 %.
Selain USRI Kurniawansyah Paimaon Harahap, ST menyatakan bahwa ada juga program sanitasi lingkungan yang disebut MSHP (Metroprolita Sanitation and Health Program ) Program ini merupakan bantuan dari ADB (Asian Development Bank). Bagi daerah, program ini merupakan hibah dari pemerintah pusat. Sedangkan untuk pemerintah pusat program ini merupakan soft loan (pinjaman lunak) dari ADB. Direncanakan program MSHP ini akan diaplikasikan untuk membangun ipal komunal di wilayah Pogung dan Nayan, Kecamatan Mlati. Program MSHP Ini merupakan salah satu program yang mendukung realisasi MDG’s (Millenium Development Goals). Untuk program MSHP ini di Indonesia cuma ada 2 daerah yang akan menerimanya yakni Yogyakarta dan Medan. * * *