Dalam pembangunan ekonomi, pemerintah daerah berperan dan bertanggung jawab dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut. (Arsyad, 1999 : 108).

Untuk mencapai tujuan pembangunan daerah, kebijakan utama yang perlu dilakukan adalah mengusahakan semaksimal mungkin agar prioritas pembangunan daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Sebagai langkah persiapan, salah satu prasyarat yang dibutuhkan untuk menjamin usaha peningkatan dan pengembangan produksi yang efektif dan efisien adalah melalui identifikasi sektoral yang meliputi keunggulan dan potensi setiap sektor ekonomi. Identifikasi potensi dapat dilakukan dengan menganalisis potensi pengembangan sektoral dan sub sektoral di masa yang akan datang.
Guna mendukung percepatan kesejahteraan masyarakat tersebut diatas diperlukan adanya informasi potensi ekonomi daerah sebagai basis data bagi penyusunan perencanaan pembangunan daerah agar pengembangan perekonomian masyarakat dapat terarah sehingga dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Untuk mengidentifikasi potensi dan mensinergikan arah pembangunan ekonomi di Kabupaten Sleman maka perlu disusun Pemetaan Potensi Ekonomi Daerah di Kabupaten Sleman Tahun 2008.
Kegiatan penyusunan Pemetaan Potensi Ekonomi Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2008  mencakup kegiatan : 1) Identifikasi potensi ekonomi di Kabupaten Sleman meliputi potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, modal dan teknologi yang dalam penggunaannya antara lain mencakup sektor pertanian secara umum (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan), ekonomi secara umum (perindustrian, perdagangan, koperasi, penanaman modal dan pariwisata); dan 2) Menyusun peta sebaran potensi ekonomi daerah, meliputi potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, modal dan teknologi yang mencakup sektor pertanian secara umum (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan), ekonomi secara umum (perindustrian, perdagangan, koperasi, penanaman modal dan pariwisata)
Alat analisis  yang dipakai dalam Pemetaan Potensi Ekonomi Kabupaten Sleman adalah : 1) Analisis Location Quotient (LQ) merupakan cara untuk mengklasifikasikan sektor-sektor yang menjadi unggulan melalui indikator besarnya peranan sektor tersebut terhadap perekonomian daerah; 2)Analisis Shift Share yaitu analisis  yang membandingkan perbedaan laju pertumbuhan berbagai sektor industri di wilayah lokal dengan wilayah internasional.; 3) Increamental Capital Output Ratio (ICOR)  yang menganalisis hubungan antara nilai investasi modal dan nilai output; 4) Analisis Spesialisasi Daerah digunakan untuk mengetahui tingkat spesialisasi antar daerah; 5) Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menjaring persepsi beberapa aparat pemerintah daerah terhadap perencanaan pembangunan ekonomi daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir perekonomian Kabupaten Sleman didominasi oleh empat sektor yaitu sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa. Namun dalam lima tahun terakhir kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB mengalami penurunan yaitu pada tahun 2002 sebesar 17,25%, tahun 2003 sebesar 15,97%, tahun 2004 sebesar 15,07%, tahun 2005 sebesar 14,71%, tahun 2006 sebesar 14,17% dan tahun 2007 sebesar 14,27%. Kontribusi masing-masing  sektor terhadap PDRB dari tahun ke tahun akan mencerminkan struktur ekonominya. Jika diamati kontribusi masing-masing sektor maka sektor perdagangan kontribusinya meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan dari sektor pertanian kontribusinya semakin menurun. Hal ini mencerminkan terjadinya pergeseran struktur perekonomian Kabupaten Sleman yang cenderung berbasis  industri dan perdagangan.
Perkembangan penanaman modal di Kabupaten Sleman sampai dengan tahun 2007 meliputi investasi PMA sebanyak 36 unit usaha dengan nilai investasi sebesar US$148 milyar dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 6.163 orang. Investasi PMDN sebanyak 36 unit usaha dengan nilai investasi sebesar Rp. 344 milyar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 9.387 orang. Investasi non fasilitas sebanyak 26.222 unit usaha dengan nilai investasi sebesar Rp. 1, 53 trilyun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 199.171 orang. Sedangkan pada tahun 2006, investasi didominasi oleh sektor perdagangan yang cukup besar yaitu sekitar Rp 129 milyar dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 5.490 orang.
Masing-masing kecamatan mempunyai struktur perekonomian dan potensi ekonomi yang berbeda-beda. Di wilayah Sleman Barat yang meliputi Kecamatan Moyudan, Minggir, Seyegan, Godean sektor utama yang paling dominan dalam mendukung struktur perekonomian dan memberikan kontribusi paling besar dalam PDRB adalah sektor pertanian dan sektor industri. Sektor pertanian merupakan sektor yang dianggap paling dominan mampu menciptakan nilai tambah di wilayah tersebut.
Di wilayah Sleman Tengah yang meliputi Kecamatan Gamping, Mlati, Sleman, Depok dan Ngaglik, sektor yang paling dominan dalam mendukung perekonomian kecamatan adalah sektor industri, perdagangan, hotel & restoran dan sektor jasa-jasa. Di wilayah lereng Merapi yang meliputi Kecamatan Tempel, Pakem, Turi dan Cangkringan, Sektor yang paling dominan dalam perekonomian di wilayah tersebut adalah sektor pertanian. Khususnya di Kecamatan Pakem sektor perdagangan, hotel & restoran juga cukup mendominasi dikarenakan keberadaan obyek wisata Kaliurang yang merupakan obyek wisata unggulan di Kabupaten Sleman.  Untuk wilayah Sleman Timur yang meliputi kecamatan Prambanan, Kalasan, Berbah dan Ngemplak, sektor yang dianggap paling dominan adalah sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Berdasarkan hasil analisis ICOR, angka ICOR Kabupaten Sleman (tahun 2007) sebesar 4,25 (ADHB) mengandung arti bahwa untuk meningkatkan 1 unit output dibutuhkan investasi sebanyak 4,25 unit. Angka tersebut juga bermakna untuk meningkatkan PDRB (ADHB) sebesar Rp 9.972.193  juta dibutuhkan investasi sebesar Rp 4.563.786 juta. Sedangkan (ADHK) ICOR (tahun 2007) sebesar 8,70 mengandung arti bahwa untuk meningkatkan 1 unit  output dibutuhkan investasi sebanyak 8,70 unit. Angka tersebut juga bermakna untuk meningkatkan PDRB (ADHK) sebesar Rp. 5.553.593  juta dibutuhkan investasi sebesar Rp 2.126.535 juta. ICOR Kabupaten Sleman selama periode 2003-2007 mempunyai rata-rata (ADHB) sebesar 3,57  dan (ADHK) sebesar 8,61. Angka ini menunjukkan bahwa investasi mempunyai produktivitas yang baik, karena mempunyai nilai ICOR antara 3-4.
Dari hasil analisis LQ dari 9 sektor ekonomi (ADHB) di Kabupaten Sleman pada tahun pengamatan 2002-2006 menunjukkan 4 (empat) sektor memiliki LQ > 1. Kelima sektor itu adalah sektor Industri Pengolahan, Bangunan,  Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan sektor Keuangan dan Perbankan. Mempunyai makna masing-masing sektor tersebut dapat menjual hasil produksinya ke daerah lain yang membutuhkan. Sektor lainnya yang memiliki LQ < 1 yaitu sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Bersih, Angkutan dan Komunikasi serta sektor Jasa-jasa. Berarti bahwa sektor tersebut bukan basis atau bukan sektor potensial.
Sedangkan berdasarkan analsisis LQ atas dasar harga konstan (ADHK) menunjukkan 5 (lima) sektor memiliki LQ > 1. Kelima sektor itu adalah sektor Industri Pengolahan, sektor Bangunan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor keuangan dan perbankan serta sektor Jasa-jasa. Hal ini diartikan masing-masing sektor tersebut dapat menjual hasil produksinya ke daerah lain yang membutuhkan. Sedangkan sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Bersih, serta Angkutan dan Komunikasi, bukan sektor basis atau bukan sektor potensial. Artinya  Kabupaten Sleman harus mendatangkan hasil produksi dari daerah lain untuk upaya memenuhi pasar lokal.
Hasil analisis dynamic location quotient (DLQ) pada sektor PDRB Kabupaten Sleman, diperoleh informasi (ADHB) bahwa sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan sektor Keuangan & Perbankan merupakan sektor yang potensi perkembangannya lebih cepat dibanding sektor yang lain. Sedangkan (ADHK) diperoleh bahwa sektor Pertanian, sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor Bangunan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dan sektor Keuangan dan Perbankan serta jasa-jasa merupakan sektor yang potensi perkembangannya lebih cepat dari sektor-sektor lainnya.
Selanjutnya, hasil perhitungan Shift-Share klasik (ADHB) menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB Propinsi DIY memberikan kontribusi terhadap Kabupaten Sleman sebesar 120.503 juta rupiah selama kurun waktu 2002-2006. Pengaruh bauran industri dan keunggulan kompetitif berdampak terhadap PDRB Sleman masing-masing sebesar 278.962 juta rupiah dan 6.487 juta rupiah. Hasil perhitungan shift-share klasik (ADHK) menunjukkan hal yang sama, yakni adanya pengaruh bauran industri mendorong pertumbuhan PDRB Kabupaten Sleman.
Dari hasil perhitungan Pertumbuhan dan kontribusi masing-masing sektor di atas selanjutnya dibuat analisis tipologi Klassen. Berdasarkan periode pengamatan (ADHB/ADHK), pengelompokkan sektor ekonomi yang didasarkan pada pola pertumbuhan relatif dan besarnya kontribusi relatif masing-masing sektor ekonomi di Kabupaten Sleman tidak ditemukan adanya sektor ekonomi dalam kategori sektor Prima. Sebagian besar sektor ekonomi masuk dalam kategori sektor potensial yaitu sektor Pertanian, Industri Pengolahan, Perdagangan, Hotel dan Restoran dan Jasa-jasa. Sektor ekonomi dalam kategori berkembang meliputi sektor Bangunan, Angkutan dan Komunikasi, Keuangan dan Perbankan. Sedangkan sektor ekonomi dalam kategori tertinggal yaitu sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih.
Hasil kalibrasi terhadap hasil analisis LQ dan shift-share dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi unggulan (ADHB) di Kabupaten Sleman adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor Industri Pengolahan, dan sektor Jasa-jasa. Sedangkan menurut ADHK adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran,  sektor Industri Pengolahan,  dan sektor Keuangan dan Perbankan.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process),  faktor yang paling dominan dalam mencapai tujuan umum pengembangan sektor unggulan di Kabupaten Sleman adalah meningkatnya pendapatan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai bobot 61,5 persen yang merupakan bobot tertinggi dibandingkan dengan faktor lain. Faktor meningkatnya posisi tawar dan meningkatnya Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Sleman juga merupakan faktor yang cukup penting dalam mencapai tujuan umum pengembangan sektor unggulan, dimana bobot untuk faktor ini sebesar 25,3 persen. Faktor meningkatnya PAD menempati peringkat ketiga dalam pengembangan sektor unggulan, dimana bobotnya sebesar 13,2 persen.
Sektor potensial di masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut :
1)    Kecamatan Moyudan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor perikanan, tanaman perkebunan, peternakan & hasil-hasilnya;  dan sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas.
2)    Kecamatan Minggir meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor perikanan dan tanaman perkebunan; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; dan sektor bangunan dengan sub sektor bangunan.
3)    Kecamatan Seyegan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman perkebunan; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; dan sektor keuangan, perbankan & jasa persewaan dengan sub sektor perbankan dan sewa bangunan.
4)    Kecamatan Godean meliputi : sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran dan restoran; dan sektor keuangan & perbankan dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank dan bank.
5)    Kecamatan Gamping meliputi : sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran dan restoran; dan sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas.
6)    Kecamatan Mlati meliputi : sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran; dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor jasa perusahaan, bank dan sewa bangunan.
7)    Kecamatan Sleman meliputi : sektor jasa-jasa dengan sub sektor pemerintahan umum.
8)    Kecamatan Depok meliputi : sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor hotel dan restoran; dan sektor jasa-jasa dengan sub sektor swasta (sosial kemasyarakatan & perorangan) dan pemerintahan umum (administrasi pemerintahan dan pertahanan).
9)    Kecamatan Tempel meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman bahan makanan dan peternakan & hasil-hasilnya; sektor bangunan dengan sub sektor penggalian; dan sektor keuangan & jasa dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank, bank dan sewa bangunan.
10)    Kecamatan Ngaglik meliputi : sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor hotel dan restoran; dan sektor keuangan & jasa dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank.
11)    Kecamatan Pakem meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan, peternakan & hasil-hasilnya dan tanaman bahan makanan; dan sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor hotel.
12)    Kecamatan Turi meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan, tanaman bahan makanan, peternakan & hasil-hasilnya dan perikanan;  sektor bangunan dengan sub sektor bangunan;  dan sektor keuangan & jasa persewaaan dengan sub sektor jasa perusahaan dan sewa bangunan.
13)    Kecamatan Cangkringan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan, perikanan, peternakan & hasil-hasilnya dan tanaman bahan makanan;  dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor sewa bangunan dan lembaga keuangan tanpa bank.
14)    Kecamatan Ngemplak meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor perikanan, tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan eceran dan restoran; dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank, bank, jasa perusahaan dan sewa bangunan.
15)    Kecamatan Kalasan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman perkebunan, peternakan & hasil-hasilnya dan perikanan; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel & restoran dengan sub sektor restoran;  dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor sewa bangunan.
16)     Kecamatan Berbah meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman bahan makanan, peternakan & hasil-hasilnya; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor keuangan dan jasa perusahaan dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank dan sewa bangunan.
17)    Kecamatan Prambanan meliputi : sektor  pertanian dengan sub sektor kehutanan, tanaman perkebunan dan tanaman bahan makanan; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor  perdagangan & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran; dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor jasa perusahaan dan sewa bangunan.
Pengembangan sektor unggulan agar dapat berkembang dengan baik perlu didukung upaya dan kebijakan sebagai berikut : Peningkatan sarana dan prasarana; peningkatan teknologi; pengembangan kelembagaan; peningkatan aksesibilitas modal; peningkatan fasilitas Pembangunan; dan pengembangan pasar.