Pembangunan gender tercerminkan pada angka IPG (Indikator Pembangunan Gender),dimana kabupaten Sleman mempunyai catatan nilai yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 tercatat angka IPG 96,09 peringkat ke 2 di DIY setelah Kota Yogyakarta. Penerapan PUG di suatu daerah secara nasional dievaluasi antara lain dengan pemberian Anugerah Parahita Ekapraya (APE) oleh pemerintah pusat, yaitu suatu penilaian sejauh mana pemerintah daerah menerapkan strategi pengarusutamaan gender, apa pencapaiannya, dan apa inovasi di dalam perwujudan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak anak serta upaya untuk memenuhi hak anak.

Indikator dalam penilaian APE antara lain : Kebijakan yang dibuat oleh legislatif dan eksekutif berkaitan dengan pengarusutamaan gender,  Komitmen pemerintah atau institusi dalam penyediaan anggaran dan perencanaan daerah baik jangka menengah, panjang berkaitan dalam mendukung kebijakan tentang gender, Implementasi tindakan nyata yang telah dilakukan oleh satuan kerja yang menangani pembangunan gender, Hasil nyata yang diraih oleh kelompok perempuan di daerah baik di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi.

Tahun Nilai IPM Sleman Nilai IPG Sleman
(1) (2) (3)
2010 79,69 92,96
2011 80,04 94,22
2012 80,10 94,75
2013 80,26 95,5
2014 80,73 96,09

Sumber : IPG Sleman 2014, (Bappeda dan BPS Sleman 2015)

Di lihat dari indikator pendukungnya, yaitu kesehatan (Angka Harapan Hidup, Indeks Kebahagiaan, akses air minum, jaminan kesehatan masyarakat, umur perkawinan pertama, angka kematian ibu, jumlah akseptor KB, proses persalinan, pemberian ASI eksklusif, imuniasi, angka kesakitan, fasilitas pengobatan yang dimanfaatkan masyrakat), Pendidikan (angka harapan lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni, angka putus sekolah, pendidikan tertinggi yang ditamatkan, rata-rata lama sekolah), terlihat bahwa pembangunan gender di kabupaten Sleman kondusif.

Lebih jauh apabila dianalisa lebih dalam dari sisi ekonomi makro (Pemerhatian Metodologi Indeks Pembangunan Gender (IPG), Pemerhatian Capaian Indeks IPG secara umum, Pendekatan Mendalam (Depth Approach) Ekonomi Makro pada Temuan IPG (IPG’s Finding), Profil Pelaku Ekonomi (Mezo-Mikro): Jenis Pekerjaan & Gender), maka baru akan terlihat kualitas pembangunan gender tersebut. Pemaknaan ini dibahas dalam seminar analisis pembangunan gender yang dimotori oleh Subbid Kesehatan Sosial bidang Pemerintahan Sosial pada hari Selasa 27 Agustus 2016 di RM Muara Kapuas Pendowoharjo. Hadir dalam acara tersebut SKPD driver PUG (Pengarusutamaan Gender) yaitu Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), BKBPMPP (Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Perlindungan Perempuan), Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, Dinas Tenaga Kerja dan Sosial, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan , Dinas Pertanian, Perikanan  dan Kehutanan serta LSM yang concern pada pembangunan gender antara lain NARASITA, CIQAL, RIFKA ANNISA, SATU NAMA, AKSARA, IDEA.

Dengan narasumber dan pembahas dari tim PSW UGM (Pusat Studi Wanita Universitas Gajah Mada), seminar ini berusaha menganalisa pembangunan gender dari sisi kesehatan, pendidikan dan ekonomi makro. Disampaikan oleh Prof. Eni Harmayani, M.Sc selaku narasumber, dan pembahas  Sri Natin S.H., S.U. , Ir. Harsoyo, M.Ext.Ed. , Drs. Soeprapto, S.U. , Rika Fatimah P.L. S.T., M.Sc., Ph. D. , Niken Herminningsih, S.Pd., M.Hum seminar ini bisa mengupas kelemahan pembangunan gender yang dilakukan di kabupaten Sleman dengan metode SWOT.

Adapun Strengths yang dimiliki kabupaten sleman adalah memiliki kebijakan yang mendukung PUG di daerah, Telah dibentuk 10 SKPD PUG Driver, SDM memadai , serta Atmosfer  antar SKPD yang kondusif. Sedangkan Weakness Program yang responsif gender belum sepenuhnya dipahami SKPD /birokrat termasuk penganggaran (PPRG), Pendidikan gender belum masuk kurikulum sekolah, Inspektorat belum memasukkan PUG sebagai salah satu mata audit, Sosialisasi PUG masih terbatas serta Ketidak adilan gender dalam bidang ekonomi.

Opportunities Kesempatan/akses pendidikan yang setara, Adanya upaya untuk pertumbuhan ekonomi, Konsep pengembangan usaha berbasis kawasan, Adanya perda kemitraan, pekerja perempuan menitipkan produk ke toko-toko modern, Tersedianya fasilitas kesehatan, Kebijakan yang mendukung kesehatan ibu dan anak, serta Threats Ketimpangan pembagian kerja gender, Paparan terhadap arus informasi  dan TIK yang bebas dan tidak terkontrol, Kultur/budaya yang mnghambat kemajuan perempuan.

Sedangkan strategi yang bisa tersusun untuk optimalisasi pembangunan gender di kabupaten Sleman adalah :

SO (Strengths Opportunities ) Kebijakan dan peraturan terkait dengan PUG bisa dimanfaatkan untuk menjamin dan membuat program-program yang responsif gender di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi serta Pelaksanaan program dapat diinisiasi oleh 10 SKPD driver

WO (Weakness Opportunity) Sosialisasi PUG dan penerapan PPRG di segala bidang (kesehatan, pendidikan, ekonomi) kepada birokrat dan SKPD, serta memasukkan PUG sebagai mata audit inspektorat serta Memasukkan PUG ke dalam kurikulum, proses belajar mengajar, bahan ajar, dan sarana prasarana sekolah dan manajemen pendidikan juga Kebijakan dan program kesetaraan gender di bidang ekonomi

ST (Strength Trheats) Kesetaraan dan keadilan gender pada lingkungan kerja dalam regulasi, Membuat peraturan dan pengawasan yang dapat mengontrol arus informasi dan komunikasi untuk perlindungan terhadap eksploitasi kekerasan perempuan dan anak serta Edukasi mengenai kesetaraan dan keadilan gender dalam kurikulum sekolah.

WT (Weakness Threats) Sosialisasi mengenai kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan politik.

Rekomendasi yang dirumuskan dalam IDG antara lain :

  1. Meningkatkan keterlibatan Perempuan di Parlemen
  2. Perempuan sebagai Tenaga Profesional dan
  3. Sumbangan Pendapatan Perempuan

Rekomendasi Kesehatan

  1. Rekomendasi untuk mempertahankan dan meningkatkan AHH
  2. Pencegahan pernikahan dini dan kekerasan terhadap perempuan
  3. Pendidikan Keluarga Berencana
  4. Kesehatan Ibu dan Anak

Rekomendasi Pendidikan

  1. Peningkatan program-program yang mendukung Angka Harapan Lama Sekolah
  2. Perlu data pilah dalam APM, APK, APS di setiap kecamatan dalam laporan IPG
  3. Sekolah perlu mengidentifikasi penyebab angka putus sekolah
  4. Peningkatan ketahanan keluarga berbasis masyarakat yang terdiri dari keluarga, institusi sekolah, masyarakat, dan institusi tempat kerja orang tua
  5. Adanya regulasi tentang standar kualitas dan pengawasan pelayanan pendidikan yang ramah anak dan responsif gender serta berwawasan budaya dan kearifan lokal.

Rekomendasi Ekonomi

  1. Pemaknaan baru pembangunan yang mengacu kepada Indeks Pembangunan Gender (IPG). Pemaknaan ini adalah upaya menempatkan faktor manusia sebagai produsen (aktif-terukur)
  2. Pemaknaan Gender sebagai  harmonisasi hubungan laki-laki dan perempuan sesuai keadilan kodrat-fitrahnya
  3. Kabupaten Sleman dapat menjadi perintis Pengukuran Gender dengan menggunakan pendekatan Kualitas & Produktivitas
  4. Perintis Program Desa Rantai Industri (Industrial Chain Village) bertujuan mewujudkan ketahanan nafkah yang mandiri dapat dijadikan program istimewa (signature) bagi Pemkab Sleman
  5. Pemaknaan Kerja Terstruktur & Tak-Terstruktur merupakan inovasi mengklasifikasi pekerjaan berbasis gender

Dalam akhir sesi seminar ditarik catatan untuk kedepan, yaitu Mempertahankan angka harapan hidup yang berkualitas, Bonus demografi perlu disusun strategi terutama untuk lansia yang berkualitas, Pendidikan yang reponsif gender untuk yang putus sekolah dan difabel, Pengembangan social enterpreneurship  di kabupaten sleman, serta penyikapan yang arif kaitan DIY khususnya Sleman sebagai tujuan migrasi no 3 di Indonesia setelah DKI dan Batam dengan tipe masyarakat menengah ke atas.  *  *  * Bidang Sosial Pemerintahan