Sejak tanggal 4 September 2017 ijin penelitian di lakukan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman.  Proses pengurusan izin penelitian dan PKL dapat dilakukan secara online melalui daring http : siteliti.slemankab.go.id Informasi lebih jelas dapat menghubungi  Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jl Candi Gebang No.1 Beran Tridadi Sleman, Yogyakarta 55511 Phone: (0274) 868504 , Fax: (0274) 868945 Website : http://kesbangpol.slemankab.go.id Email : bakesbangpol@slemankab.go.id

Search results for: peta sleman

ROADMAP PENGUATAN SISTEM INOVASI DAERAH (SIDa) KABUPATEN SLEMAN

Inovasi merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan ekonomi dan daya saing daerah. Terjadinya pergeseran ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis pengetahuan menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi merupakan faktor yang semakin menentukan dalam kemajuan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman selama 3 tahun mengalami fluktuasi. Pada tahun 2010 perekonomian tumbuh 4,49% menguat menjadi 5,19% pada tahun 2011. Pada tahun 2012 kinerja sektor-sektor ekonomi mengalami pertumbuhan sebesar 5,20%.

Struktur perekonomian daerah cenderung berubah dari sektor primer beralih ke sektor sekunder dan tersier. Pada tahun 2011 sektor primer sebesar 13,31% sektor sekunder sebesar 28,39% dan sektor tersier sebesar 58,30%. Pada tahun 2012 sektor primer sebesar 13,56%, sektor sekunder sebesar 28,64% dan sektor tersier sebesar 57,51% dan diperkirakan pada tahun 2013 sektor primer sebesar 13,42%, sektor sekunder sebesar 29,05% dan sektor tersier sebesar 57,50%. Empat lapangan usaha pendukung utama perekonomian di Kabupaten Sleman adalah perdagangan, hotel dan restoran, jasa-jasa, industri pengolahan dan pertanian.

Pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian terus turun, permasalahan yang dihadapi adalah semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan belum optimalnya penerapan inovasi di sektor pertanian. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian perlu ditingkatkan melalui inovasi sehingga meningkatkan daya saing dan menyejahterakan petani mengingat penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 137.003 jiwa dan potensi lahan di Kabupaten Sleman mempunyai mikrobia spesifik dengan adanya gunung api Merapi.

Inovasi diarahkan pada 2 pilar yakni sektor pertanian inovatif dan pengembangan UMKM berbasis klaster sehingga di Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Sleman disusun dengan tema “Industri Kreatif Pertanian Untuk Kesejahteraan Masyarakat Melalui Pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja”.Strategi efektif guna membangun pola pikir untuk peningkatan pembangunan daya saing adalah melalui kolaborasi dengan membangun networking antara pemerintah (pusat/daerah), bisnis dan perguruan tinggi. Komponen tersebut kemudian melakukan evaluasi kerangka regulasi untuk mendorong kolaborasi bersama dalam pembuatan kebijakan insentif  (Sistem maupun nominal) serta peningkatan jiwa kewirausahaan.Inovasi tidak dapat berjalan secara parsial, harus merupakan kolaborasi antar aktor yang saling berinteraksi dalam suatu sistem yang disebut sebagai sistem inovasi.

Produk unggulan merupakan produk yang potensial untuk dikembangkan dalam suatuwilayah dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia setempat, serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah. Produk unggulan juga merupakan produk yang memiliki daya saing, berorientasi pasar dan ramah lingkungan, sehingga tercipta keunggulan kompetitif yang siap menghadapi persaingan global.Penetapan produk unggulan daerah dalam Sistem Inovasi Daerah (SIDa) diperlukan untuk dapat memberikan fokus dan prioritas yang jelas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengembangan Sistem Inovasi Daerah.

Berdasarkan Keputusan Menteri dalam Negeri Nomor 050.05/30 Bangda tanggal 7 Januari 1999 produk unggulan suatu daerah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Kandungan teknologi yang cukup menonjol baik industri kecil dan jasa
  2. Mempunyai jangkauan pemasaran yang luas baik lokal, nasional maupun ekspor.
  3. Mempunyai ciri khas daerah, inovatif dan melibatkan masyarakat banyak (tenaga kerja setempat).
  4. Mempunyai kandungan bahan baku lokal yang banyak dan stabil atau melalui pembudidayaan.
  5. Ramah lingkungan
  6. Dapat mempromosikan budaya lokal

Menurut Alkadri, dkk 2001 dalam Daryanto 2003 kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu komoditas tergolong unggul atau tidak bagi suatu wilayah sebagai berikut :

  1. Mampu menjadi penggerak utama (prime mover) pembangunan perekonomian,
  2. Mempunyai keterkaitan kedepan dan kebelakang kuat baik sesame komoditas unggulan maupun komoditas lainnya,
  3. Mampu bersaing dengan produk/komoditas sejenis dari wilayah lain di pasar nasional maupun internasional baik dalam hal harga produk, biaya produksi, maupun kualitas pelayanan,
  4. Memiliki keterkaitan dengan wilayah lain baik dalam hal pasar maupun pasokan bahan baku,
  5. Memiliki status teknologi yang terus meningkat,
  6. Mampu menyerap tenaga kerja berkualitas secara optimal sesuai dengan skala produksinya,
  7. Dapat bertahan dalam jangka panjang tertentu,
  8. Tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal,
  9. Pengembangannya harus mendapatkan berbagai bentuk dukungan (keamanan, sosial, budaya, informasi dan peluang pasar, kelembagaan, fasilitas insentif/disinsentif dan lain-lain),
  10. Pengembangannya berorientasi pada kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Dengan melihat kriteria tersebut, maka produk unggulan Kabupaten Sleman yang dipilih untuk penguatan SIDameliputi :

  1. Padi
  2. Salak pondoh
  3. Kambing PE
  4. Budidaya bambu

Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing nasional yang telah terbukti berhasil dan telah di lakukan oleh banyak negara maju di dunia adalah dengan memperkuat sistem inovasi nasional. Sistem ini diharapkan akan mampu membangkitkan kreatifitas dan inovasi yang diperlukan, agar produk-produk sebuah negara dapat bersaing secara langsung dengan produk negara lain, baik di pasar domestik maupun internasional. Bagi suatu daerah, kemampuan inovasi merupakan faktor daya saing yang sangat penting, terutama dalam menghadapi beberapa kecenderungan sebagai berikut:

  1. Tekanan persaingan global yang terus meningkat ;
  2. Produk semakin kompleks dan memiliki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen; dan
  3. Perubahan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks.

Tujuan utama lainnya adalah untuk meningkatkan daya ungkit (leverage) peran iptek yang sesuai dan spesifik bagi daerah, serta meningkatkan kemampuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam mengakses dan memanfaatkan iptek (dalam arti luas) dan hasil litbangyasa serta mengembangkannya.

Permasalahan kegiatan penelitian dan pengembangan di Sleman antara lain :

  1. Hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan lembaga litbang dan perguruan tinggi belum tercatat dalam suatu Sistem database yang kontinu sehingga banyak hasil penelitian yang tidak diketahui oleh Pemerintah Kabupaten Sleman dan belum dimanfaatkan secara optimal.
  2. Koordinasi dan sinergi lembaga penelitian dalam menghadirkan dan menerapkan ilmu pengetahun dan terknologi masih perlu ditingkatkaan. Hal ini bertujuan mengarahkan kegiatan penelitian bagi kepentingan agar produk yang dihasilkan lebih bermanfaat.

Pembangunan SIDa terdiri atas beberapa pelaku mulai dari pemerintah daerah sampai dengan masyarakat. Keseluruhan pelaku tersebut akan terintegrasi dengan elemen utama adalah sumber daya, kelembagaan dan perkembangan jaringan.

Pembangunan SIDa di Kabupaten Sleman sudah dilakukan hanya saja keseluruhan proses belum terSistem. Tingkat kematangan SIDa Kabupaten Sleman dilihat dengan menggunakan metode ANIS (Analysis of NationalInnovation Systems). Metode ANIS ini mengidentifikasi faktor-faktor penentu tingkat kematangan SIDa dan mengelompokkan menjadi 3 (tiga) level :

  1. Level Makro yang terkait dengan kebijakan inovasi meliputi kebijakan inovasi nasional, kebijakan inovasi daerah, master plan, regulasi pro inovasi, kebijakan klaster, pendidikan dan pelatihan dan R & D foresight.
  2. Level Messo yang terkait dengan dukungan kelembagaan dan program inovasi yaitu : a. Kelembagaan inovasi dengan ruang lingkup pusat transfer teknologi, taman teknologi (technopark), penyedia layanan inovasi, inkubasi teknologi dan bisnis, klaster, program litbang terapan, pendanaan litbang bersama dan intermediasi serta lembaga promosi bisnis; b. Program pendukung inovasi dengan ruang lingkup pembiayaan science, technology & innovation, program litbang dasar, program litbang terapan, pendanaan litbang bersama, intermediasi teknologi, dukungan kewirausahaan, program pengembangan klaster, dan dukungan kerjasama internasional.
  3. Level Mikro yang terkait dengan kapasitas inovasi meliputi universitas, institusi riset dasar, institusi riset swasta, inovator, investor swasta, wirausahawan, UKM dan perusahaan besar.

Metode ANIS menilai tingkat kematangan SIDa pada setiap level yang dipengaruhi oleh sistem yang telah terjalin dan interaksi para aktor. Aktor pada level makro (kebijakan) adalah otoritas publik dan pembuat kebijakan yang menjalankan fungsi menetapkan dan mengatur kerangka kebijakan SIDa. Aktor pada level mikro adalah lembaga-lembaga pendukung inovasi dan program-program pemerintah yang terkait dengan inovasi. Aktor pada level mikro yaitu perusahaan, universitas, institusi kebijakan dan institusi riset.

SIDa adalah keseluruhan proses dalam satu sistem untuk menumbuh kembangkan inovasi yang dilakukan antar institusi pemerintah, pemerintah daerah, lembaga kelitbangan, lembaga pendidikan, lembaga penunjang inovasi, dunia usaha dan masyarakat di daerah. Penguatan SIDa diperlukan untuk mengefektifkan dan efisiensi pengelolaan inovasi dalam rangka eksistensi peningkatan ekonomi daerah.Roadmap penguatan SIDa mengakomodasi seluruh program dan kegiatan yang didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara, anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi, anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota dan lain-lain pendapatan yang sah dan tidak mengikat.

Kabupaten Sleman memiliki beberapa target yang akan dicapai dalam penguatan SIDa, antara lain :

1. Meningkatkan jejaring aktor SIDa

Peningkatan jejaring aktor SIDa diharapkan dapat memacu peningkatan inovasi yang ada di Sleman. Jejaring pelaku yang perlu ditingkatkan adalah elemen lembaga penelitian dan masyarakat. Untuk itu, perlu diberikan insentif kepada inovator baik itu dana penelitian, kompetisi/hibah penelitian serta dana bagi inventor. Jejaring aktor juga perlu mengajak mitra untuk membantu UMKM baik itu untuk pendanaan, pelatihan, pembinaan dan pendampingan serta kegiatan penguatan SIDa lain.

2.  Meningkatkan diseminasi Iptek

Diseminasi Iptek perlu terus dilakukan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing komoditas unggulan Sleman.

3. Meningkatkan implementasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing komoditas klaster Kabupaten Sleman.

Kebijakan Penguatan SIDa adalah meningkatkan kerjasama lembaga litbang dan perguruan tinggi dengan industri. Sedangkan strategi penguatan SIDa Kabupaten Sleman dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Peningkatan inovasi daerah melalui research and development (R & D) dengan membentuk inkubator teknologi

2. Peningkatan promosi produk inovasi

3. Peningkatan keterlibatan dan dukungan masyarakat dalam penguatan SIDa

4. Pengembangan Bisnis Inovation Centre (BIC)/Business Technology Centre (BTC)

5. Pemanfaatn teknologi informasi sebagai media sebaran inovasi

Rencana aksi SIDa langkah pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan organisasi SIDa (pembentukan sekretariat SIDa dan dukungan pembiayaan). Organisasi SIDa ini perlu segera dibentuk dalam rangka mengurusi berbagai potensi inovasi Sleman serta berbagai permasalahan terkait SIDa Sleman. Organisasi ini bertugas menyusun dokumen Roadmap penguatan SIDa, mengintegrasikan program SIDa dalam dokumen rencana strategis kementerian dan lembaga, melakukan sinkronisasi, harmonisasi dan sinergi SIDa, melakukan penataan unsur SIDa secara nasional, melakukan pengembangan SIDa secara nasional, mempersiapkan rumusan kebijakan penguatan SIDa, mengordinasikan penyusunan program dan kegiatan penguatan SIDa secara nasional, melakukan monitoring dan evaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan penguatan SIDa. Sistem pendanaan SIDa ini juga perlu segera diatur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga berbagai upaya pengembangan dapat segera berjalan. Selain itu, perlu diupayakan pembiayaan dari sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

Rencana kedua adalah sosialisasi dan promosi SIDa. Hal ini perlu dilakukan dari tingkat instansi pemerintah, lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi, LSM serta masyarakat dan pihak terkait lainnya. Sosialisasi menyangkut berbagai hal mengenai SIDa serta upaya yang akan dilakukan pemerintah kabupaten sehingga tiap pihak akan mampu mengetahui peran serta dan tanggung jawab serta terpacu untuk mensuskseskan inovasi di Sleman. (Bid. Dalev)

FGD DISEMINASI TEKNOLOGI SPESIFIK LOKASI (SPEKLOK) DI KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2012

Bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Sleman, pada hari Senin tanggal 30 April 2012 diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Teknologi Spesifik Lokasi (Speklok). Hadir dalam acara ini Kabid Pemetaan di Asdep Iptek Masyarakat Kemenristek RI Syachrial Annas, Sekda Kabupaten Sleman, dr. Sunartono, M.Kes, Kepala Bappeda Sleman, drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes, Dr. Benito Fakultas Pertanian UGM, Kepala SMKN 1 Seyegan, Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Sleman serta kelompok masyarakat yang terdiri dari :

       ” Ngudi Makmur” Hargobinangun Pakem (Kambing PE)

       ”Sedyo Makmur” Wonorejo Sariharjo Ngaglik (Sapi Potong)

       ”Angudi Makmur” Plumbon Lor Mororejo Tempel (Sapi Potong)

       “Anugrah Mukti” Cageran Tamanmartani Kalasan (Sapi Potong)

       “UPP Sembada” Tajem Maguwoharjo Depok (Perikanan)

       ”Rekateknik Indo” Dongkelsari Umbulmartani Ngemplak (bengkel rekayasa)

       ”Merapi Makmur” Banaran Argomulyo Cangkringan (Pertanian}

       Kelompok masyarakat dari Tanen Hargobinangun Pakem (Coklat)

       ”Manunggal” Gading Glagaharjo Cangkringan (Kopi)

        Dalam laporannya, Kepala Bappeda Sleman, drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes menyampaikan bahwa Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan unsur utama dalam kemajuan peradaban manusia.  Secara umum peranan Iptek adalah untuk

a) meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,

 b) meningkatkan daya saing bangsa,

c) memperkuat kesatuan dan persatuan nasional,

d) mewujudkan pemerintahan yang transparan, dan

e) meningkatkan jatidiri bangsa di tingkat internasional. 

Selain itu melalui Iptek, manusia dapat mendayagunakan kekayaan alam untuk menunjang kesejahteraan dan meningkatkan kualitas kehidupan. Sehingga dengan adanya program Diseminasi Teknologi Spesifik Lokasi ini dapat membantu masyarakat untuk dapat bersaing dan meningkatkan kesejahteraannya. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah  pemberdayaan masyarakat melalui penyebaran teknologi.

Sedangkan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman dr. Sunartono, M.Kes dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa Sleman menyambut gembira pelaksanaan FGD ini, karena kegiatan ini merupakan upaya dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Ristek untuk mengakomodasi  berbagai kebutuhan teknologi tepat guna yang diperlukan oleh masyarakat. Dengan demikian nanti harapannya, apa yang akan diberikan oleh Kementerian Ristek RI dapat bermanfaat bagi masyarakat Sleman. Jangan sampai terjadi teknologi ataupun  peralatan yang diberikan kepada masyarakat justru tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebagai misal memberikan bantuan mobil kepada seseorang yang tidak bisa menyetir. Sehingga bantuan peralatan yang diberikan mubazir  atau dongkrok.  

Lebih lanjut dr. Sunartono, M.Kes mengatakan bahwa kami menyadari bahwa kami tidak memiliki teknologi. Teknologi itu dimiliki oleh universitas  dan di lembaga-lembaga riset. Kami hanya dapat mengadop teknologi dari lembaga-lembaga tersebut. Oleh karena itu pola-pola seperti ini perlu kita pertahankan di dan kita tingkatkan di waktu-waktu yang akan datang. Sleman mengharapkan agar dapat dijadikan sebagai laboratorium pengembangan teknologi, terutama teknologi tepat guna.

Sementara itu dalam paparannya Kabid Pemetaan di Asdep Iptek Masyarakat Kemenristek RI Syachrial Annas mengemukakan bahwa Kegiatan yang dilaksanakan merupakan kegiatan penerapan atau perluasan teknologi dengan pola pendampingan dari daerah. Teknologi yang digunakan sudah terbukti kehandalannya (proven technology) dan dapat diterapkan di  lokasi sesuai kondisi. Kegiatan yang akan dilaksanakan merupakan usulan pemerintah daerah atau usulan masyarakat yang diketahui oleh Pemda setempat ataupun hasil dari kajian kebutuhan daerah oleh KRT. Selain itu kegiatan yang akan dilaksanakan sejalan dengan prioritas daerah, sehingga mendapat dukungan pemerintah daerah untuk sharing dana.

Lebih lanjut pemerintah daerah melibatkan secara aktif personil pelaksana sesuai bidangnya. Guna mendukung kegiatan ini telah terdapat kesepakatan antara pemerintah daerah dengan lembaga-organisasi  litbangyasa dan perguruan tinggi untuk kesinambungan kegiatan.

Seusai paparan dilanjutkan dialog dengan moderator Dra. Suci Iriani Sinuraya, M.Si, MBA, MM, Kepala Bidang Pengendalian dan Evaluasi. Dari hasil diskusi diperoleh kebutuhan akan adanya peralatan untuk pembuatan pakan ikan, yang sangat dibutuhkan oleh para petani ikan di Sleman dan pencacah rumput agar dapat difermentasikan.  Selain itu juga diperlukan adanya teknologi untuk pembuatan pupuk organik secara lebih baik dan lebih maksimal kualitas pupuknya. Terlebih lagi kandang ternak di Sleman ini letaknya relatif berdekatan dengan pemukiman warga. Mengingat para petani di Sleman masih membutuhkan pupuk organik. Selain itu teknologi lain dibutuhkan adalah teknologi pengolahan hasil panen.

 Adapun dari kelompok bengkel rekayasa sangat membutuhkan bantuan alat bubut untuk mendukung optimalisasi pembuatan berbagai alat teknologi tepat guna. * * *  

TAHUN 2011, SLEMAN MENANGKAN PENGHARGAAN ANUGERAH IPTEK

Tahun 2011 Kab Sleman kembali memenangkan anugrah Iptek untuk kab/kota setelah tahun 2010 memenangkan anugerah serupa untuk kategori SDM Iptek.

Anugerah Iptek untuk kab/kota tahun 2011 menggunakan istilah Anugerah Iptek Budhipura. Anugerah Budhipura diberikan kepada pemerintah kab/kota berdasarkan penilaian atas upaya pemerintah kab/kota dalam meningkatkan kelajuan pembangunan iptek di daerah melalui penguatan kompetensi kelembagaan dan sumber daya iptek.

Penghargaan ini _juga merupakan apresiasi atas prestasi pemerintah kab/kota yang telah menunjukan kontribusi optimal dalam membangun iptek, sebagai dasar ilmiah dalam penyelesaian masalah-masalah aktual yang dihadapi daerah guna mendorong daya saing daerah.

Keberpihakan dan kontribusi ini ditunjukan pada kebijakan pembangunan iptek yang memberikan dukungan fasilitas, stimulasi, dan penciptaan iklim kondusif serta aksi nyata dalam mensinergikan perkembangan kelembagaan dan sumber daya iptek yang dimilikinya dengan berbagai faktor lainnya.

Dalam penilaian penghargaan ini, melihat apakah di daerah tersebut cukup baik dalam mengimplementasikan hubungan/interaksi ABGC (Academic, Bussines, Government dan Community) atau dalam istilah lain adalah Triple Helix Plus (ABG Plus People). Terkait dengan penilaian kategori ini, maka Kabupaten Sleman dianggap cukup bagus karena cukup memfasilitasi terjadinya link ABGC atau Triple Helix Plus

Pada penghargaan anugerah Ristek kategori SDM Iptek tahun 2010 yang lalu, sebelumnya tim Fact Finding di Kementerian Ristek berkunjung ke lapangan dan mereka sangat tertarik mengunjungi pengolahan sampah berbasis masyarakat di dusun Sukunan. yang akhimya ditindakianjuti lagi kunjungan non formal dari para pejabat Kementerian Ristek ke Sukunan tanggal 16 Juni 2011 dan ke Pasar Buah Gamping untuk melihat pengolahan sampah buah menjadi energi listrik. Pasar buah Gamping adalah salah satu lokasi yang mencerminkan gambaran Triple Helix Plus (ABGC) karena kegiatan dipasar buah Gamping merupakan hasil kerjasama antara PT (UGM/Jurusan Teknik. Kimia) — Pemkab Sleman-masyarakat (Koperasi pedagang buah Gemah Ripah-pemerintah Swedia Kota Bouras dan Dinas Electricity Kota Bouras).

Pada penghargaan Anugerah Budhipura tahun 2011 ini, tim Fact Finding dari Kementerian Ristek juga melakukan kunjungan lapangan setelah Kabupaten Sleman dinyatakan masuk nominasi. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada tanggal 20 — 21 Juli 2011 dan diterima oleh Bupati, Sekda, Kepala Bappeda beserta jajarannya dan SKPD terkait. Tim dipimpin oleh ibu Dra Vemmie D Koswara, M. A, Asisten Deputi Budaya dan Etika Iptek dengan anggota Dr. Anny Sulaswaty, M.Eng ( sehari hari adalah Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Ristek) dan pada saat ini menjabat sebagai Ketua Panitia Peringatan Hakteknas ke-16 tahun 2011, Ir Wisnu Sunarso, M.Eng, Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan pengguna dan OK Sofyan, Kepala Bidang di Keasdepan

Dalam pertemuan dengan Bupati pada tanggal 20 Juli 2011 tim diajak melihat budidaya jamur dan pengembangannya dari mulai hulu ke hilir serta kemanfaatan adanya budidaya jamur tersebut bagi masyarakat. Usaha tersebut telah mendorong terbentuknya petani plasma yang dari waktu ke waktu semakin meluas. Selain itu juga berdampak terhadap roda pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat disekitarnya, hal tersebut dapat dilihat adanya usaha parkir , munculnya pedagang buah, dan cendera mata, bisnis pemasokan bahan bahan yang diperlukan untuk rumah makan jamur dll.

Kunjungan tim Fact Finding dilanjutkan pada hari kedua yaitu tanggal 21 Juli 2011 dan mendapat penjelasan tentang kondisi geografis Sleman, potensi dan permasalahan serta berbagai unggulan yang dimiliki oleh Kab Sleman dari Sekda Sleman yaitu Bapak dr. Sunartono, M.Kes. Dalam dinamika diskusi tersebut terungkap beberapa teknologi pada tingkat proses yang sudah dilakukan baik oleh pemerintah Kabupaten Sleman maupun oleh masyarakat dengan dukungan dan atau fasilitasi Pemkab, antara lain : Pengembangan salak pondoh dengan sertifikasi prima 3, pengembangan benih bunga (khususnya krisan), pengembangan beras lokal unggulan seperti beras hitam, beras merah, beras merah putih, rojolele, menthik wangi dsb, sertifikasi buah unggulan : jambu dalhari, buah naga, dan pengembangan berbagai jenis tanaman jamur. * * *

 

PEMETAAN POTENSI EKONOMI KABUPATEN SLEMAN

Dalam pembangunan ekonomi, pemerintah daerah berperan dan bertanggung jawab dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut. (Arsyad, 1999 : 108).

Untuk mencapai tujuan pembangunan daerah, kebijakan utama yang perlu dilakukan adalah mengusahakan semaksimal mungkin agar prioritas pembangunan daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Sebagai langkah persiapan, salah satu prasyarat yang dibutuhkan untuk menjamin usaha peningkatan dan pengembangan produksi yang efektif dan efisien adalah melalui identifikasi sektoral yang meliputi keunggulan dan potensi setiap sektor ekonomi. Identifikasi potensi dapat dilakukan dengan menganalisis potensi pengembangan sektoral dan sub sektoral di masa yang akan datang.
Guna mendukung percepatan kesejahteraan masyarakat tersebut diatas diperlukan adanya informasi potensi ekonomi daerah sebagai basis data bagi penyusunan perencanaan pembangunan daerah agar pengembangan perekonomian masyarakat dapat terarah sehingga dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Untuk mengidentifikasi potensi dan mensinergikan arah pembangunan ekonomi di Kabupaten Sleman maka perlu disusun Pemetaan Potensi Ekonomi Daerah di Kabupaten Sleman Tahun 2008.
Kegiatan penyusunan Pemetaan Potensi Ekonomi Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2008  mencakup kegiatan : 1) Identifikasi potensi ekonomi di Kabupaten Sleman meliputi potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, modal dan teknologi yang dalam penggunaannya antara lain mencakup sektor pertanian secara umum (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan), ekonomi secara umum (perindustrian, perdagangan, koperasi, penanaman modal dan pariwisata); dan 2) Menyusun peta sebaran potensi ekonomi daerah, meliputi potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, modal dan teknologi yang mencakup sektor pertanian secara umum (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan), ekonomi secara umum (perindustrian, perdagangan, koperasi, penanaman modal dan pariwisata)
Alat analisis  yang dipakai dalam Pemetaan Potensi Ekonomi Kabupaten Sleman adalah : 1) Analisis Location Quotient (LQ) merupakan cara untuk mengklasifikasikan sektor-sektor yang menjadi unggulan melalui indikator besarnya peranan sektor tersebut terhadap perekonomian daerah; 2)Analisis Shift Share yaitu analisis  yang membandingkan perbedaan laju pertumbuhan berbagai sektor industri di wilayah lokal dengan wilayah internasional.; 3) Increamental Capital Output Ratio (ICOR)  yang menganalisis hubungan antara nilai investasi modal dan nilai output; 4) Analisis Spesialisasi Daerah digunakan untuk mengetahui tingkat spesialisasi antar daerah; 5) Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menjaring persepsi beberapa aparat pemerintah daerah terhadap perencanaan pembangunan ekonomi daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir perekonomian Kabupaten Sleman didominasi oleh empat sektor yaitu sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa. Namun dalam lima tahun terakhir kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB mengalami penurunan yaitu pada tahun 2002 sebesar 17,25%, tahun 2003 sebesar 15,97%, tahun 2004 sebesar 15,07%, tahun 2005 sebesar 14,71%, tahun 2006 sebesar 14,17% dan tahun 2007 sebesar 14,27%. Kontribusi masing-masing  sektor terhadap PDRB dari tahun ke tahun akan mencerminkan struktur ekonominya. Jika diamati kontribusi masing-masing sektor maka sektor perdagangan kontribusinya meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan dari sektor pertanian kontribusinya semakin menurun. Hal ini mencerminkan terjadinya pergeseran struktur perekonomian Kabupaten Sleman yang cenderung berbasis  industri dan perdagangan.
Perkembangan penanaman modal di Kabupaten Sleman sampai dengan tahun 2007 meliputi investasi PMA sebanyak 36 unit usaha dengan nilai investasi sebesar US$148 milyar dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 6.163 orang. Investasi PMDN sebanyak 36 unit usaha dengan nilai investasi sebesar Rp. 344 milyar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 9.387 orang. Investasi non fasilitas sebanyak 26.222 unit usaha dengan nilai investasi sebesar Rp. 1, 53 trilyun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 199.171 orang. Sedangkan pada tahun 2006, investasi didominasi oleh sektor perdagangan yang cukup besar yaitu sekitar Rp 129 milyar dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 5.490 orang.
Masing-masing kecamatan mempunyai struktur perekonomian dan potensi ekonomi yang berbeda-beda. Di wilayah Sleman Barat yang meliputi Kecamatan Moyudan, Minggir, Seyegan, Godean sektor utama yang paling dominan dalam mendukung struktur perekonomian dan memberikan kontribusi paling besar dalam PDRB adalah sektor pertanian dan sektor industri. Sektor pertanian merupakan sektor yang dianggap paling dominan mampu menciptakan nilai tambah di wilayah tersebut.
Di wilayah Sleman Tengah yang meliputi Kecamatan Gamping, Mlati, Sleman, Depok dan Ngaglik, sektor yang paling dominan dalam mendukung perekonomian kecamatan adalah sektor industri, perdagangan, hotel & restoran dan sektor jasa-jasa. Di wilayah lereng Merapi yang meliputi Kecamatan Tempel, Pakem, Turi dan Cangkringan, Sektor yang paling dominan dalam perekonomian di wilayah tersebut adalah sektor pertanian. Khususnya di Kecamatan Pakem sektor perdagangan, hotel & restoran juga cukup mendominasi dikarenakan keberadaan obyek wisata Kaliurang yang merupakan obyek wisata unggulan di Kabupaten Sleman.  Untuk wilayah Sleman Timur yang meliputi kecamatan Prambanan, Kalasan, Berbah dan Ngemplak, sektor yang dianggap paling dominan adalah sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Berdasarkan hasil analisis ICOR, angka ICOR Kabupaten Sleman (tahun 2007) sebesar 4,25 (ADHB) mengandung arti bahwa untuk meningkatkan 1 unit output dibutuhkan investasi sebanyak 4,25 unit. Angka tersebut juga bermakna untuk meningkatkan PDRB (ADHB) sebesar Rp 9.972.193  juta dibutuhkan investasi sebesar Rp 4.563.786 juta. Sedangkan (ADHK) ICOR (tahun 2007) sebesar 8,70 mengandung arti bahwa untuk meningkatkan 1 unit  output dibutuhkan investasi sebanyak 8,70 unit. Angka tersebut juga bermakna untuk meningkatkan PDRB (ADHK) sebesar Rp. 5.553.593  juta dibutuhkan investasi sebesar Rp 2.126.535 juta. ICOR Kabupaten Sleman selama periode 2003-2007 mempunyai rata-rata (ADHB) sebesar 3,57  dan (ADHK) sebesar 8,61. Angka ini menunjukkan bahwa investasi mempunyai produktivitas yang baik, karena mempunyai nilai ICOR antara 3-4.
Dari hasil analisis LQ dari 9 sektor ekonomi (ADHB) di Kabupaten Sleman pada tahun pengamatan 2002-2006 menunjukkan 4 (empat) sektor memiliki LQ > 1. Kelima sektor itu adalah sektor Industri Pengolahan, Bangunan,  Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan sektor Keuangan dan Perbankan. Mempunyai makna masing-masing sektor tersebut dapat menjual hasil produksinya ke daerah lain yang membutuhkan. Sektor lainnya yang memiliki LQ < 1 yaitu sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Bersih, Angkutan dan Komunikasi serta sektor Jasa-jasa. Berarti bahwa sektor tersebut bukan basis atau bukan sektor potensial.
Sedangkan berdasarkan analsisis LQ atas dasar harga konstan (ADHK) menunjukkan 5 (lima) sektor memiliki LQ > 1. Kelima sektor itu adalah sektor Industri Pengolahan, sektor Bangunan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor keuangan dan perbankan serta sektor Jasa-jasa. Hal ini diartikan masing-masing sektor tersebut dapat menjual hasil produksinya ke daerah lain yang membutuhkan. Sedangkan sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Bersih, serta Angkutan dan Komunikasi, bukan sektor basis atau bukan sektor potensial. Artinya  Kabupaten Sleman harus mendatangkan hasil produksi dari daerah lain untuk upaya memenuhi pasar lokal.
Hasil analisis dynamic location quotient (DLQ) pada sektor PDRB Kabupaten Sleman, diperoleh informasi (ADHB) bahwa sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan sektor Keuangan & Perbankan merupakan sektor yang potensi perkembangannya lebih cepat dibanding sektor yang lain. Sedangkan (ADHK) diperoleh bahwa sektor Pertanian, sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor Bangunan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dan sektor Keuangan dan Perbankan serta jasa-jasa merupakan sektor yang potensi perkembangannya lebih cepat dari sektor-sektor lainnya.
Selanjutnya, hasil perhitungan Shift-Share klasik (ADHB) menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB Propinsi DIY memberikan kontribusi terhadap Kabupaten Sleman sebesar 120.503 juta rupiah selama kurun waktu 2002-2006. Pengaruh bauran industri dan keunggulan kompetitif berdampak terhadap PDRB Sleman masing-masing sebesar 278.962 juta rupiah dan 6.487 juta rupiah. Hasil perhitungan shift-share klasik (ADHK) menunjukkan hal yang sama, yakni adanya pengaruh bauran industri mendorong pertumbuhan PDRB Kabupaten Sleman.
Dari hasil perhitungan Pertumbuhan dan kontribusi masing-masing sektor di atas selanjutnya dibuat analisis tipologi Klassen. Berdasarkan periode pengamatan (ADHB/ADHK), pengelompokkan sektor ekonomi yang didasarkan pada pola pertumbuhan relatif dan besarnya kontribusi relatif masing-masing sektor ekonomi di Kabupaten Sleman tidak ditemukan adanya sektor ekonomi dalam kategori sektor Prima. Sebagian besar sektor ekonomi masuk dalam kategori sektor potensial yaitu sektor Pertanian, Industri Pengolahan, Perdagangan, Hotel dan Restoran dan Jasa-jasa. Sektor ekonomi dalam kategori berkembang meliputi sektor Bangunan, Angkutan dan Komunikasi, Keuangan dan Perbankan. Sedangkan sektor ekonomi dalam kategori tertinggal yaitu sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih.
Hasil kalibrasi terhadap hasil analisis LQ dan shift-share dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi unggulan (ADHB) di Kabupaten Sleman adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor Industri Pengolahan, dan sektor Jasa-jasa. Sedangkan menurut ADHK adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran,  sektor Industri Pengolahan,  dan sektor Keuangan dan Perbankan.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process),  faktor yang paling dominan dalam mencapai tujuan umum pengembangan sektor unggulan di Kabupaten Sleman adalah meningkatnya pendapatan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai bobot 61,5 persen yang merupakan bobot tertinggi dibandingkan dengan faktor lain. Faktor meningkatnya posisi tawar dan meningkatnya Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Sleman juga merupakan faktor yang cukup penting dalam mencapai tujuan umum pengembangan sektor unggulan, dimana bobot untuk faktor ini sebesar 25,3 persen. Faktor meningkatnya PAD menempati peringkat ketiga dalam pengembangan sektor unggulan, dimana bobotnya sebesar 13,2 persen.
Sektor potensial di masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut :
1)    Kecamatan Moyudan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor perikanan, tanaman perkebunan, peternakan & hasil-hasilnya;  dan sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas.
2)    Kecamatan Minggir meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor perikanan dan tanaman perkebunan; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; dan sektor bangunan dengan sub sektor bangunan.
3)    Kecamatan Seyegan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman perkebunan; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; dan sektor keuangan, perbankan & jasa persewaan dengan sub sektor perbankan dan sewa bangunan.
4)    Kecamatan Godean meliputi : sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran dan restoran; dan sektor keuangan & perbankan dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank dan bank.
5)    Kecamatan Gamping meliputi : sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran dan restoran; dan sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas.
6)    Kecamatan Mlati meliputi : sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran; dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor jasa perusahaan, bank dan sewa bangunan.
7)    Kecamatan Sleman meliputi : sektor jasa-jasa dengan sub sektor pemerintahan umum.
8)    Kecamatan Depok meliputi : sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor hotel dan restoran; dan sektor jasa-jasa dengan sub sektor swasta (sosial kemasyarakatan & perorangan) dan pemerintahan umum (administrasi pemerintahan dan pertahanan).
9)    Kecamatan Tempel meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman bahan makanan dan peternakan & hasil-hasilnya; sektor bangunan dengan sub sektor penggalian; dan sektor keuangan & jasa dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank, bank dan sewa bangunan.
10)    Kecamatan Ngaglik meliputi : sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor hotel dan restoran; dan sektor keuangan & jasa dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank.
11)    Kecamatan Pakem meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan, peternakan & hasil-hasilnya dan tanaman bahan makanan; dan sektor perdagangan hotel & restoran dengan sub sektor hotel.
12)    Kecamatan Turi meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan, tanaman bahan makanan, peternakan & hasil-hasilnya dan perikanan;  sektor bangunan dengan sub sektor bangunan;  dan sektor keuangan & jasa persewaaan dengan sub sektor jasa perusahaan dan sewa bangunan.
13)    Kecamatan Cangkringan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan, perikanan, peternakan & hasil-hasilnya dan tanaman bahan makanan;  dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor sewa bangunan dan lembaga keuangan tanpa bank.
14)    Kecamatan Ngemplak meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor perikanan, tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel & restoran dengan sub sektor perdagangan eceran dan restoran; dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank, bank, jasa perusahaan dan sewa bangunan.
15)    Kecamatan Kalasan meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman perkebunan, peternakan & hasil-hasilnya dan perikanan; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel & restoran dengan sub sektor restoran;  dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor sewa bangunan.
16)     Kecamatan Berbah meliputi : sektor pertanian dengan sub sektor tanaman bahan makanan, peternakan & hasil-hasilnya; sektor industri pengolahan dengan sub sektor industri tanpa migas; sektor keuangan dan jasa perusahaan dengan sub sektor lembaga keuangan tanpa bank dan sewa bangunan.
17)    Kecamatan Prambanan meliputi : sektor  pertanian dengan sub sektor kehutanan, tanaman perkebunan dan tanaman bahan makanan; sektor bangunan dengan sub sektor bangunan; sektor  perdagangan & restoran dengan sub sektor perdagangan besar & eceran; dan sektor keuangan & jasa perusahaan dengan sub sektor jasa perusahaan dan sewa bangunan.
Pengembangan sektor unggulan agar dapat berkembang dengan baik perlu didukung upaya dan kebijakan sebagai berikut : Peningkatan sarana dan prasarana; peningkatan teknologi; pengembangan kelembagaan; peningkatan aksesibilitas modal; peningkatan fasilitas Pembangunan; dan pengembangan pasar.

SEMINAR HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL (HAKTEKNAS) TAHUN 2016

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Tahun 2016, Bappeda Kabupaten Sleman menyelenggarakan Seminar Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Tahun 2016 dengan Tema ”Inovasi untuk Kemandirian & Daya Saing Bangsa” yang dilaksanakan belum lama ini di Aula Pangripta Bappeda Kabupaten Sleman Jl. Parasamya No. 1 Beran Tridadi Sleman

Seminar ini diikuti oleh Gapoktan, Ketua Asosiasi Pertanian, PPL Pertanian, Inovator, Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi, SKPD dan UMKM. Tujuan penyelenggaraan seminar adalah meningkatkan kapasitas SDM petani dan UMKM sebagai bagian pembangunan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) dan juga membangun jejaring antara akademisi, pelaku bisnis, komunitas dan pemerintah.

Rangkaian kegiatan Pembukaan Seminar Hakteknas diawali dengan sambutan dari Kepala Bappeda Ketua Panitia. Acara selanjutnya sambutan Bupati Sleman diteruskan dengan membuka secara resmi seminar Hakteknas tahun 2016 dengan tema ”Inovasi untuk Kemandirian & Daya Saing Bangsa”. Dalam acara pembukaan seminar ini Bupati Sleman menyerahan secara simbolis bantuan stimulan sertifikasi HAKI yang berupa hak paten kepada Suryadi, S.Pd penemu Mediakres (media tanam dari plastik kresek) dan SMK Diponegoro dengan penemuan motor anti begal.

Pada sesi seminar, presentasi pertama dari Fakultas Peternakan UGM tentang Plaza Agro. Plaza Agro adalah sebuah unit usaha milik Fakultas Peternakan UGM yang bergerak dalam bidang penjualan produk hasil ternak dari peternak binaan Fakultas Pertanian UGM dan atau UMKM lain yang produknya sudah sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Pengelola Plaza Agro.

Pemapar selanjutnya adalah Adhita Sri Prabakusuma, SP.,M.Sc,  Fak. Teknologi Industri  Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tentang Pemasaran dengan Teknologi Informasi/Media Sosial. Diharapkan agar para petani dan UMKM mampu memasarkan sendiri hasil produknya melalui media teknologi informasi /Media Sosial. Pemapar selanjutnya adalah Hardi Julendra, S.Pt, M.Sc Kepala BPTBA LIPI Yogyakarta tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Daerah dan diakhiri paparan dari BATAN Jakarta tentang Agro Techno Park. Acara diakhiri dengan Tanya jawab dan diskusi terkait dengan materi seminar. *** (Bidang statistik, penelitian & perencanaan)

FGD Pengembangan Investasi Daerah

Pada hari Rabu, 25 Juni 2014 Bidang Ekonomi Bappeda Sleman melaksanakan Focus Group Discussion untuk memperoleh masukan guna penyempurnaan kajian pengembangan investasi daerah TA 2014. Bertempat di Aula Bappeda Sleman, acara ini dihadiri oleh lebih dari 50 orang perwakilan yang berasal dari berbagai SKPD di lingkungan Pemkab Sleman, Kecamatan dan Pemerintah Desa terkait, BPS Sleman, PHRI, Manajemen RS JIH, Asosiasi Salak Sleman Sembada, Manajemen PT. Damai Putra Group, Asosiasi Angkutan Darat dan para pelaku usaha lainnya yang berinvestasi di Sleman.

Acara diawali dengan paparan oleh para narasumber kajian yang berasal dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Narasumber memaparkan perkembangan sementara dari hasil pengolahan data dan analisis indikator makro inklusifitas suatu investasi. Investasi yang inklusif berarti investasi tersebut mampu memberikan dampak positif yang signifikan dan luas/merata, tidak hanya bagi investor/karyawan di dalam perusahaan investasi, tetapi juga bagi Pemerintah Daerah, masyarakat luas dan lingkungan. Pengukuran inklusifitas dilakukan terhadap ke-9 sektor ekonomi di Sleman, hal ini bertujuan untuk melihat kondisi dan potensi di tiap-tiap sektor ekonomi sehingga pengembangan investasi kedepannya disesuaikan dengan kondisi dan potensi tersebut.

Indikator makro inklusifitas suatu investasi dinilai berdasarkan pemeringkatan 3 parameter, yaitu; Porsi dalam PDRB, Jumlah Serapan Tenaga Kerja, dan Penerimaan Asli Daerah. Berdasarkan analisis indikator makro inklusifitas, diketahui 5 sektor ekonomi yang paling inklusif, yaitu Sektor Jasa, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Bangunan, Sektor Pertanian dan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan.

Acara dilanjutkan dengan diskusi, dimana para peserta FGD menyampaikan banyak sekali masukan berkenaan dengan permasalahan untuk berinvestasi di Sleman, terutama terkait dengan pemerataan pembangunan yang pro poor dan pro job, permasalahan perijinan, penataan wilayah khusus investasi dan ketersediaan infrastruktur daerah. Selain itu, dibahas juga kesiapan Pemkab Sleman dalam menghadapi Asean Economic Community dimana para petani khususnya akan menghadapi masalah yang serius atas pemberlakuan berbagai sertifikasi yang diwajibkan untuk bisa masuk ke Negara Asean lainnya. Disisi lain, serbuan produk dari Negara-Negara Asean lain yang sudah lebih siap, berpotensi membanjiri pasar lokal. (Bid. Eko)