Kesetaraan gender menjadi isu yang sangat penting dalam pembangunan manusia yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia tanpa membedakan jenis kelamin (laki – laki dan perempuan). Hal ini juga sudah menjadi komitmen masyarakat internasional, khususnya Negara sedang berkembang yang tercakup dalam Millenium Development Goals (MDGs) terkait butir – butir yang berhubungan dengan gender. Dalam butir – butir tersebut antara lain adalah dapat menghilangkan kesenjangan gender dalam pendidikan dasar (butir tujuan kedua), mendorong adanya kesetaraan gender dalam pendidikan dasar (butir tujuan kedua), mendorong adanya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (butir tujuan ketiga), dan meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan angka kematian ibu (butir tujuan kelima).

    Meskipun telah banyak kemajuan pembangunan yang dicapai, namun kenyataan menunjukkan bahwa kesejangan gender masih dijumpai. Banyak pihak telah mengkritik adanya kesenjangan antara laki – laki dan perempuan dalam berpartisipasi, mengakses, mengontrol dan mendapatkan manfaat dari berbagai aspek kehidupan. Masalah gender berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan cultural, sehingga pembahasannya harus menggunakan pendekatan multidispliner dengan meningkatkan keterpaduan bersama kekuatan yang ada dalam masyarakat. Upaya peningkatan keadilan dan kesetaraan gender memiliki dua aspek yang sangat strategis, yaitu pertama perbaikan kondisi, dan kedua peningkatan posisi perempuan, baik dalam kehidupan individu, keluarga maupun masyarakat.

    Upaya peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan dilakukan secara lintas bidang dan lintas daerah yang keberhasilannya diukur antara lain oleh Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index / GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (Gender Empowerment Measurement/ GEM). Berdasarkan hasil penghitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Sleman pada tahun 2012 semakin meningkat apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 2011. Hal ini ditunjukkan dari nilai IPG Kabupaten Sleman pada tahun 2012 menjadi sebesar 75,76 dari 74,75 pada tahun 2011. Pencapaian ini dipicu oleh peningkatan hampir semua komponen pembentuk IPG yaitu komponen kesehatan, pendidikan maupun ekonomi. Sedangkan IDG Kabupaten Sleman mengalami penurunan menjadi 69,66 pada tahun 2012, dari 70,52 pada tahun 2011.

    Kenaikan IPG pada tahun 2011 ternyata dibarengi dengan penurunan ketimpangan gender. Hal ini terlihat pada menyempitnya angka ketimpangan gender dari 4,04 pada tahun 2011 menjadi 3,63 pada tahun 2012. Hal ini karena komponen angka melek huruf perempuan, rata – rata lama sekolah perempuan, kontribusi pendapatan perempuan, keterlibatan perempuan dalam parlemen dan posisi perempuan sebagai pengambil keputusan dalam dunia kerja masih lebih rendah disbanding laki – laki.Untuk mengurangi ketimpangan gender, maka komponen – komponen pembentuk IPG dan IDG yang masih rendah perlu ditingkatkan. Dengan demikian untuk meningkatkan kualitas pembangunan gender di Kabupaten Sleman pada masa mendatang diperlukan perhatian yang lebih serius terhadap permasalahan gender, terutama pemberdayaan perempuan pada dunia kerja perlu terus ditingkatkan. (Bid Sosbud) * * *