Tujuan pembangunan nasional pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Berbagai program pembanguan telah dilakukan oleh pemerintah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, perumahan, lingkungan hidup, keamanan, politik dan lain – lain sebagainya.

Keseluruhan upaya tersebut ditempuh melalui program – program pembangunan yang menyangkut aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan serta kehidupan sosial lainnya baik yang dilakukan oleh pemerintah, swasta maupun secara swadaya oleh masyarakat. Usaha – usaha tersebut merupakan kegiatan berkesinambungan yang bermuara untuk mencapai tujuan pembangunan secara optimal.

Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman tahun 2012 merupakan salah satu media yang dapat membantu memberikan gambaran data kesejahteraan rakyat yang ada di masyarakat sebagai hasil dari suatu proses pembangunan.

Jumlah penduduk yang besar merupakan salah satu asset penting dan potensi dalam pembangunan. Namun pertumbuhan penduduk yang relative cepat dapat berubah menjadi beban bagi pembangunan itu sendiri, apalagi bila pertumbuhan tersebut tidak dipenuhi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Oleh karena itu, arah kebijakan di bidang kependudukan perlu diprioritaskan pada upaya pengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas, sehingga potensi penduduk yang ada merupakan faktor yang dapat menguntungkan pembangunan.

Jumlah penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2012 sebesar 1.114.833 jiwa, dengan rasio jenis kelamin 100,18 yang berarti penduduk laki – laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Rata – rata kepadatan penduduk Kabupaten Sleman 1.939 jiwa / km² dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Depok, yaitu 5.176 jiwa / km² dan kepadatan terendah di Kecamatan Cangkringan yaitu 596 jiwa /km². Penduduk kabupaten Sleman sebanyak 54,5 persen yang berjenis kelamin perempuan melakukan perkawinan pertamanya pada usia 19-24 tahun.

Salah satu unsur penting dari kualitas fisik penduduk adalah status kesehatan. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, pemerintah telah melakukan berbagai program antara lain melalui penyuluhan kesehatan, imunisasi, pemberantasan penyakit menular, penyediaan air bersih dan sanitasi, serta pelayanan kesehatan. Program ini memprioritaskan pelayanan yang terjangkau oleh masyarakat umum, dengan perhatian khusus kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

Pemerintah kabupaten Sleman juga menyediakan berbagai sarana kesehatan. Pada tahun 2012, jumlah rumah sakit umum ada 19 unit, rumah sakit khusus 6 unit, rumah sakit bersalin 16 unit, balai pengobatan 26 unit, puskesmas 25 unit ( 17 unit diantaranya sudah mempunyai ISO 9001:2000/2008) puskesmas pembantu 71 unit serta 1.170 unit posyandu aktif (sumber : Profil Kesehatan 2013) yang terbesar di 17 kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Sleman. Selain itu, lebih dari 92 persen balita lahir dengan bantuan tenaga terdidik dan kesadaran akan pentingnya ASI Ekslusif bagi anak ternyata cukup tinggi.

Dalam bidang pendidikan, merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa dimana semakin tinggi tingkat pendidikannya maka akan lebih mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan tekhnologi. Menguasai teknologi da pengetahuan, penduduk dapat menjadi sumber daya yang sangat berperan dalam meningkatkan produktifitas yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk. Guna mengetahui sampai seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam rangka pembangunan di bidang pendidikan Kabupaten Sleman pada tahun 2012 dapat dilihat dari indikator seperti :

  1. Angka Melek Huruf sebesar 94,53 persen hal ini menggambarkan tingginya kemampuan membaca dan menulis,
  2. Angka Partisipasi Kasar (APK) yang menggambarkan keikutsertaan penduduk pada stiap jenjang pendidikan. Untuk APK SD/MI mencapai 116,51persen, APK SMP/MTs mencapai 113,70persen dan APK SMA/SMK/MA mencapai 77,69persen
  3. Angka Partisipasi Murni (APM) merupakan rasio antara jumlah murid suatu jenjang pendidikan yang berusia sesuai jenjang pendidikan tersebut dengan penduduk usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan.                    Hal ini ,terlihat APM SD/MI  mencapai 100,87persen APM SMP/MTs mencapai 81,84persen selanjutnya APM SMA/SMK/MA mencapai 55,11persen
  4. Angka Putus Sekolah dihitung dari jumlah anak usia sekolah yang sudah mengenyam suatu jenjang sekolah tersebut. APK SD/MI mencapai 36 orang, APK SMP/MTs mencapai 44 orang dan SMA/MSK/MA mencapai 84 orang.

Di bidang ketenagakerjaan, kebijakan ekonomi yang ditempuh Pemerintah selslu memperhatikan dampaknya pada perluasan kesempatan kerja, mengingat besarnya angkatan kerja yang siap masuk ke pasar kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 66,34persen dengan rincian TPAK laki – laki mencapai 75,57 persen dan perempuan 57,24persen dimana sektor perdagangan dan hotel sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar sekitar 25,32 persen. Sedangkan angka pengangguran terbuka sebesar 5,42persen.

Dari segi perumahan sebagian besar rumah di Kabupaten Sleman sebesar 72,16persen memiliki luas kurang dari 100 m² dengan jenis atap terbanyak adalah genteng dan dinding terluas adalah tembok. Dari segi lingkungan, sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Sleman memanfaatkan sumur terlindung sebagai sumber air minum sebesar 60,40persen dan telah memiliki fasilitas buang air besar sendiri sebanyak 65,54persen dengan jarak penampungan tinja 10 meter atau lebih dari sumber air minum.

Masalah kesejahteraan rakyat tidak dapat dilepaskan dari masalah kemiskinan. Kemiskinan merupakan masalah utama yang terjadi di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Secara umum banyaknya kemiskinan merupakan indikasi ekonomi yang lemah dari suatu wilayah. Kemajuan pembangunan ekonomi salah satunya akan tercermin dari keberhasilan program pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Garis kemiskinan di Kabupaten Sleman pada tahun 2012 adalah Rp. 288.048,00 per kapita per bulan, atau mengalami peningkatan 7,84 persen dibandingkan tahun 2011. Tren peningkatan garis kemiskinan tidak terlepas dari laju inflasi yang menggambarkan tingkat kenaikan harga barang – barang kebutuhan masyarakat. Secara umum, proporsi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non makanan lebih besar dibandingkan kebutuhan makanan (63,24 persen berbanding 36,76 persen). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan rumah tangga. Pada tahun 2012, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sleman diperkirakan mencapai 116,8 ribu orang atau sebesar 10,44 persen. Terjadi penurunan angka kemiskinan sebesar 0,43 persen. (Bid IV) * * *