Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) di berbagai daerah, salah satunya di Kabupaten Sleman mengalami tekanan yg berat, hal ini terkait dengan tingginya tingkat alih fungsi lahan, kepadatan penduduk serta pemanfaatan sumber daya alam terjadi secara intensif. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai bertujuan untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan kegiatan manusia guna kelestarian fungsi lingkungan serta dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bertempat di Aula Pangripta Bappeda Kabupaten Sleman pada hari Selasa tanggal 20 Desember 2016, Subbidang Lingkungan Hidup, Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda Kabupaten Sleman menyelenggarakan Diskusi Kebijakan Pengelolaan DAS di Kabupaten Sleman dengan menghadirkan 3 narasumber yang berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Provinsi DIY serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman.

Diskusi membahas sejumlah hal yang berkaitan dengan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Sleman, mengingat Pengelolaan Daerah Aliran Sungai memerlukan keterpaduan pengelolaan oleh berbagai sektor yang saling bersinergi mulai dari hulu sampai hilir. Kewenangan pengelolaan DAS dan hutan menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi DIY, khusus Taman Nasional Gunung Merapi dibawah Balai besar KSDA dan pemerintah pusat, namun dalam pelaksanaannya akan tetap berkoordinasi dengan kabupaten/kota dan berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Prediksi iklim digunakan sebagai bahan antisipasi untuk menghadapi dampak negatif yang terjadi pada periode puncak musim hujan di bulan Januari – Februari 2017 maupun puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2017 serta bersinergi dengan kebijakan pengembangan kawasan di Kabupaten Sleman khususnya pemanfaatan tata ruang berbasis DAS sesuai dengan fungsinya dalam upaya mengendalikan pemanfaatan ruang di Kabupaten Sleman. Hal ini mengingat Sleman merupakan daerah tangkapan air primer setiap perubahan yang terjadi dapat mempengaruhi ketersediaan air daerah bawahannya. * * * (Bidang Fisik dan Prasarana)