Bertempat dia Ruang pertemuan unit I Pemkab Sleman, pada hari Kamis, tanggal 9 Juni 2011 diselenggarakan Curah Gagasan  dengan tema Re Design Perencanaan Kepariwisataan Kabupaten Sleman Pasca Erupsi  Merapi 2010. Acara ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari  Tim Pusat Studi Pariwisata UGM,  Kecamatan Pakem, Kecamatan Turi, Kecamatan Prambanan, BPPTK,  PT Taman Wisata Candi Prambanan dan Ratu Boko, Dinas Pariwisata DIY, MPI DIY, Barahmus DIY, HPI Kab. Sleman, PHRI Kab. Sleman, serta stake holder pariwisata lainnya.

Dalam pengarahannya Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, dr. Sunartono, M.Kes mengemukakan bahwa dalam pengembangan wisata khususnya di Sleman memerlukan perhatian yang serius. Mengingat Sleman memiliki daya tarik wisata cukup beragam, namun sayangnya kini mulai berkurang.  Sebagai misal dulu Sleman mempunyai banyak daerah subur untuk pertanian, sekarang ini lahannya  mulai terdesak oleh kebutuhan lain. Selain itu daerah yang memiliki potensi wisata yang cukup indah di Sleman, yakni yang berada di lereng Gunung Merapi kondisinya berubah drastis  setelah erupsi merapi di akhir tahun 2010. Akibat erupsi tersebut banyak potensi dan infrastruktur yang ada di lereng Merapi hilang. Meskipun ada sebagian orang yang  mengatakan bahwa potensi itu bukan hilang, hanya diganti. Karena setelah erupsi Merapi itu ada potensi  besar yang dapat kita gali. Akan tetapi kita belum siap dengan adanya perubahan yang sangat besar tersebut. Masyarakatnya belum siap, demikian juga pemerintahnya juga belum siap. Dulu pemandangan di lereng Merapi yang hijau dan indah kini tiba-tiba ditimbun dengan lahar panas dan lahar dingin.

Erupsi Merapi di satu sisi merupkan potensi priwisata minat khusus. Akan tetapi bisakah potensi itu kita perahankan dalam jangka panjang ? Secara kapasitas masyarakat dilereng Merapi belum semuanya  siap untuk menerima kedatangan wisatawan yang ingin menikmati wisata alam yang baru ini. Masih banyak masyarakat kita yang berpikir jangka pendek, melihat banyaknya wisatawan yang ingin melihat dampak erupsi maka setiap lorong dibuka untuk  pintu masuk dengan sumbangan sukarela, di setiap lorong juga dijadikan penitipan atau parkir kendaraan . Kondisi ini sangat tidak nyaman, bahkan ironisnya anak-anak kecil diekspliotasi untuk membawa kotak sumbangan. Hal tersebut mengindikasikan masyarakat kita belum siap menerima perubahan yang tiba-tiba.  Setelah status Merapi turun sedikit demi sedikit potensi ini mulai kita garap. Indikasinya adalah saat ini sudah ada yang mulai membuat kaos dengan latar belakang Gunung Merapi dan sebagainya. Ini merupakan  pengembangan potensi yang masih dalam skala kecil. Padahal potensi yang ada sangat besar. Oleh karen itu saya berharap melalui forum ini kita dapat bersama-sama menyusun strategi untuk memantapkan pengembangan potensi Merapi.

Lebih lanjut dr. Sunartono, M.Kes mengatakan bahwa pada saat ini Sleman sedang menyusun Badan Promosi Wisata Kabupaten Sleman. Diharapkan akhir bulan Juni 2011 SK personil Badan Promosi Wisata Kabupaten Sleman ini dapat segera selesai. Berkenaan dengan hal tersebut saya mohon nantinya apa yang disampaikan oleh  para stakeholder dalam pengembangan wisata dalam curah pendapat ini dapat disinergikan dengan program Badan Promosi Wisata Kabupaten Sleman. Diharapkan kedepannya nanti kepariwisataan di Sleman dapat benar-benar menjadi andalan.  Dalam kesempatan tersebut dr. Sunartono, M.Kes juga menyampaikan keprihatinannya mengenai pariwisata di Yogyakarta. Selama ini Yogyakarta dikenal sebagai daerah tujuan wisata ke 2 setelah Bali. Apakah realitanya demikian ? Apabila kita cermati dan kita rasakan sebenarnya Yogya hanya kebagian ”dus” sisa makan siang para wisatawan dari Bali. Hal ini dikarenakan jarak Yogja Bali hanya satu jam dengan penerbangan pesawat dan menginapnya di Bali. Kondisi ini seharusnya benar-benar disikapi agar wisatawan  yang datang ke Yogya benar-benar tinggal dan menikmati wisata di Yogya, tidak sekedar mampir. Berkenaan dengan hal tersebut para stakeholder pariwisata dituntut untuk membuat paket-paket wisata yang menarik.  Sehinga wisatawan benar-benar betah berwisata di Yogya, khususnya Sleman. Sebagai contohnya di Thailand, naik gerobak saja bisa jadi daya atraksi. Naik gajah juga demikian. Padahal kita juga punya gerobak sapi, kita juga punya kerbau, kuda untuk dikembangkan. Sangat ironis sekali jika tidak dikembangkan, karena potensi kita sebenarnya tidak kalah. Untuk mengelola wisata di suatu daerah hendaknya dilakukan secara bersama-sama dengan daerah lain dan jangan saling mematikan.

Diskusi curah pendapat dipimpin oleh Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Kab. Sleman, Drs. Muhamad Aji Wibowo, M.Si. Dalam pengantarnya Drs. Muhamad Aji Wibowo, M.Si menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan media untuk mengetahui apa yang harapkan dan inginkan oleh para stakeholder  pariwisata dalam pengembangan pariwisata Sleman. Oleh karena itu yang diundang dalam diskusi ini adalah para stake holder pariwisata di Sleman. Lebih lanjut Drs. Muhamad Aji Wibowo, M.Si mengatakan bahwa sebenarnya Sleman telah memiliki RIPPDA yakni tahun 1997 dan telah direview tahun 2006. Di Sleman ini pada akhir tahun 2010 terjadi peristiwa yang luar biasa yakni penemuan candi di kompleks Kampus UII serta erupsi Merapi, kemudian pengembangan rumah Dome. Sehingga pada tahun 2011 Pemkab Sleman berusaha untuk me review ulang rencana induk pengembangan pariwisata di Sleman. Terlebih lagi akhir-akhir ini muncul wisatawan minat khusus, hal ini perlu diakomodir. Keluaran dari hasil diskusi ini akan disusun dalam suatu buku  yang sesuai dengan standar akademis yang akan diedit oleh Puspar UGM. Sebelum dipublikasikan, buku tersebut perlu didiskusikan kembali. Diskusi curah gagasan ini diawali dengan penyampaian desain awalnya buku ini oleh Bapak Desta  dari Pusat Studi Pariwisata UGM, untuk disempurnakan melalui diskusi ini. * * *